Angsa Jenius

"Jika tidak sibuk dengan kebaikan, berarti kita tengah sibuk dalam keburukan, atau minimal kesia-siaan."

Yang Mendukung dan Yang Menjatuhkan

Tuesday, May 27, 2014
Seperti koin yang terdiri dari dua sisi, seperti itu pula manusia. Selalu ada yang mendukung dan yang menjatuhkan, karena hakikatnya setiap hal diciptakan berpasangan.

Perkenalkan, nama perempuan itu Rahma (bukan nama sebenarnya, karena nama samaran Bunga udah terlalu mainstream di Koran-koran tigaribuan). Usianya 22 tahun saat cerita ini ditulis. Sudah punya KTP sejak empat tahun lalu. Sudah punya SIM C sejak akhir tahun lalu.

Berkeinginan bisa naik sepeda sejak kelas 1 SD membuatnya merajuk minta dibelikan sepeda baru, bukan lagi sepeda roda tiga merk Family yang rodanya berwarna ungu. Di hari yang dinanti, sang Bapak membelikannya sepeda baru. Merknya Subaru warnanya ungu. Semangat bersepedanya mendadak sirna melihat sepeda baru yang tidak sesuai kriteria. Rahma ingin sepeda mini berwarna pink dengan keranjang di bagian depan, sedangkan yang ada di hadapannya adalah sepeda gunung yang disebutnya pit federal.
Setiap disuruh latihan bersepeda, Rahma akan pura-pura jatuh atau dengan sengaja menjatuhkan diri sebegai alasannya berhenti belajar sepeda. Kelas 2 SD, saat teman-teman sepermainannya bersepeda keliling kampung, Rahma cukup puas dengan berjalan di paling belakang konvoi sepeda. Rahma berjalan menggandeng sepedanya. Kegiatan ini dia sebut bersepeda yang dalam bahasa asli disebut pit-pitan.
Kelas 3 SD, bu Guru, Bu Leginah namanya, bertanya “Siapa yang belum bisa naik sepeda ngacung!” dan tanpa ragu Rahma mengangkat jari telunjuk kanannya. Dia diam sesaat, menyadari bahwa hanya dia dan satu orang yang mengangkat tangan belum bisa naik sepeda. Sepulang sekolah, Rahma (ingat, bukan nama sebenarnya) bergegas berlatih naik sepeda. Dia pernah terjerembab di pagar tetangga karena tak bisa menghindar dari motor yang lewat. Dia pernah menabrak tukang gulali karena tak bisa mengerem sepedanya. Dia jatuh berkali-kali, tapi dia bangkit lagi.

Dalam proses berjalan menggandeng sepeda hingga bisa naik sepeda sendiri itu, ada orang-orang yang mendukung dan ada juga yang menjatuhkan. Rahma berkesimpulan, tak semua omongan orang itu benar.
Persis sama gw sekarang yang belum lama berani bawa motor di Bandung. Awalnya bawa motor jarak 100 meter aja rasanya jauh lebih cape dan ngos-ngosan dibanding jalan kaki. Kenapa? Karena grogi. Awalnya, setiap bawa motor, Tari selalu mengawal di belakang pelan-pelan, memastikan gw aman. Lama-lama, berani boncengin orang, lalu berani bawa motor ke Pangalengan. Hidup itu penuh dengan proses.

Di saat seperti ini, akan kelihatan siapa yang mendukung dan siapa yang ngga pengin lo berkembang. Contoh sederhananya ya kasus bawa motor ini. Ada yang memberi semangat dan berusaha memastikan gw aman, ada juga yang meremehkan dengan “Wah lo bawa motornya aja masih ngeri gitu ngga seimbang. Udah bonceng aja.” Yang ngomong cowok. Eits enak aja _-_ *roll depan*

Di saat-saat sulit, lo akan tahu siapa yang selalu berusaha ada dan mengerti, dan siapa yang pura-pura ngga tahu apa-apa. Hidup itu penuh dengan proses, dan hal-hal semacam ini mungkin bagian dari proses menemukan siapa orang-orang yang paling pantas lo percaya.

niat hati membentuk tulisan SC, sama salah satu orang paling terpercaya hihihi

p.s. terima kasih untuk yang selalu percaya dan bisa dipercaya, terima kasih untuk yang selalu bisa mengerti.

How Your College Shape You

Monday, May 26, 2014
Satu doa yang paling gw inget selama gw ngerjain TA, “Ya Allah kuatkan, kuatkan, kuatkan.”

Berkesibukan di bagian pengembangan karir kampus, selain masih ngajar, bikin mata gw terbuka lebih lebar. Belakangan ini aturan pindah prodi diperbolehkan, dan banyak mahasiswa yang dateng ke CDC pengin pindah prodi. Keluhannya rata-rata sama, ngga suka atau ngga kuat sama hitung-hitungan. Ah, adek-adek itu mengingatkan gw pada dilemma gw di pertengahan kuliah. Masa TPB Alhamdulillah bisa dilalui dengan sangat lancar karena isinya ngga jauh beda sama pelajaran SMA. Masalah mulai timbul masuk semester 3, mata kuliah-mata kuliah khas Sistem Informasi memenuhi daftar KSM. Susah? Bohong kalau gw bilang engga. Tapi saat itu sama sekali ngga terbersit untuk pindah kuliah karena setiap telepon Bapak selalu bilang “Pasti bisa. Putri Bapak pasti bisa, kamu kan pinter, hebat. Yakin saja pasti bisa.” kalimat-kalimat positif semacam ini ngga pernah gagal membangkitkan percaya diri.

Sombong nggak?
Ngga pernah terbersit sama sekali ini adalah bentuk kesombongan. Gw percaya, pada dasarnya manusia butuh diapresiasi, minimal oleh diri sendiri. Jangan pelit memuji diri sendiri, tapi juga jangan kelewat pede. Di awal-awal kuliah gw inget sering bergumam “karena aku hebat dan Allahku paling hebat, maka kali ini pasti bisa” Ah sama kok dengan fenomena wanita dan kaca. Kenapa wanita suka berkaca? Ngga cuman di cermin tapi juga di spion, kaca mobil, kaca mobil orang di parkiran, bahkan ada yang berkaca di sendok (harusnya namanya bersendok ya bukan berkaca). Kenapa? Karena wanita merasa cantik. Dia suka melihat pantulan dirinya dalam bentuk yang indah. Coba aja kalo lagi jelek pasti males ngaca, kalaupun ngaca pasti tujuannya buat memperbaiki biar ngga jelek-jelek amat :p

Nah balik ke pengaruh positif. Memang ngaruh banget apa yang sering kita dengar dalam pembentukan pola pikir dan karakter. Gw inget banget pas ikut seminarnya Yoris Sebastian, dia bilang kalo dia nggak pernah nyesel kuliah akuntansi walaupun ngga sampe lulus dan sekarang bekerja di industri kreatif, bukannya mendalami akuntansi. Well, kuliah bukan hanya soal pekerjaan. Kuliah juga soal pembentukan pola pikir (dan tentu saja relasi). Saat menjadi wirausahawan di bidang industri kreatif, pola pikir akuntansi ternyata sangat kepake. Program kreatif I Love Monday pun muncul karena pola pikir akuntansinya yang memperhitungkan, ngapain bikin program di weekend karena weekend emang selalu rame. Hard rock café butuh customer buat weekday yang jumlah pendapatannya jauh dibanding weekend. See? Ngga ada yang namanya kuliah salah jurusan.

Pas ngajar, gw juga nanya ke mahasiswa kelas gw siapa yang ngga suka coding, siapa yang ngga suka Java. Sesuai prediksi, bahkan anak-anak D3 Manajemen Informatika pun ada yang ngga suka coding. Dan sesuai pengalaman, gw bercerita bahwa kuliah ini salah satunya tentang pembentukan pola pikir. Sebagai lulusan Sistem Informasi, kalau lihat suatu sistem yang ngga efisien dari sisi cost, time atau people, rasanya gemes. Seharusnya nggak gini. Dulu pas masih kuliah, kalau ke mall dan parkir otomatis, yang dipikir bukan cuma bayar habis berapa ya, tapi juga ini algoritmanya gimana ya bisa jadi sistem parking kaya gini.

Kuliah ngga cuma soal transkrip nilai dan IPK, tapi juga soal kedewasaan dalam mencari solusi menghadapi masalah.
skill dan pendewasaan itu salah satunya datang dari organisasi dan kepanitiaan (panitia IELTS 2010)
Jangan mau biasa aja dengan hanya datang duduk di kelas. Riset, baca paper, ikut UKM, ikut lomba. Karena semua itu akan jadi hal yang lo kangenin ketika KTM sudah ngga lagi berlaku dan status mahasiswa udah ngga di genggaman.

Rindu

Saturday, May 24, 2014
Kampus masih tampak sama sekilas. Pohon-pohon masih tegak di tanah tempatnya menyerap nutrisi, gedung-gedung masih kokoh dan tampan dari kejauhan. Lorong-lorong, yang kata orang seperti lorong rumah sakit, masih sama misteriusnya. Semua masih sama kecuali dua hal, pertama bahwa ia bukan lagi mahasiswa dan kedua adalah bahwa orang-orang berseragam putih biru yang dia temui kini asing. Ia masih dikenal, disapa banyak orang, walaupun dengan sapaan ‘kak’ bukan lagi namanya seperti dulu. Ia tak lagi menemui sebayanya, orang-orang yang bisa dengan bebas ia teriaki dari jarak belasan meter. Ia tak bisa sebebas dulu berjalan berjingkat-jingkat sambil sesekali melompat mencoba meraih kayu-kayu di atap lorong kampus. Saat ini ada predikat yang harus ia jaga. Ia adalah dosen muda yang baru diangkat di kampus tempatnya mendapatkan gelar sarjana.

Jumat, 23 Mei 2014. Matahari Bandung bersinar terik, menyengat setiap penghuni Bandung pinggiran yang sering disebut Bandung coret. Dayeuhkolot tak terkecuali. Siang ini ia berjalan melewati lapangan futsal. Senyap. Hanya ada beberapa rompi seragam dijemur, didiamkan begitu saja di dalam lantai lapangan yang memantulkan panas terik. Perempuan itu menoleh ke satu sudut lapangan yang begitu familiar. Ada sesosok bayangan disana, tengah duduk memegang botol minum, menoleh dan tersenyum. Ia mengerjap, bayangan itu hilang dalam kedipan mata. Ini bukan kali pertama. Dulu ia percaya bayangan seperti ini adalah hantu, tapi belakangan ia sadar ini rindu. Ia terus berjalan, berharap apa yang baru saja dilihatnya adalah nyata.

Berjalan menyusur lorong sendirian melemparkan ingatannya pada tiga tahun lalu. Orang-orang dengan seragam yang sama tapi dengan cerita yang berbeda. Dari ribuan mahasiswa kampusnya, yang tiap hari berseragam putih dan rok atau celana biru dongker, ada satu orang yang selalu berhasil menangkap matanya. Ada satu orang yang setiap sapaannya ingin dia rekam untuk diputar berulang. Ada satu orang yang hanya dengan senyumnya saja rasanya masalah terselesaikan. Satu orang yang tatapannya saat menyimak cerita seperti memberi solusi.

Ia teringat kutipan Kahlil Gibran dalam bukunya Almustafa, “Dan selalu saja cinta menyadari kedalamannya ketika perpisahan tiba.” Selalu pula, rindu menemukan pemiliknya ketika jarak menjadi sesuatu yang bisa diukur.

Banyak orang memilih jujur ketika rindu, ia termasuk dalam segolongan orang yang diam. Mengirim kode-kode yang hanya dipahaminya sendiri. Menyapanya dalam dialog pada Tuhannya.
Ia berakhir di depan gedung tempatnya mengenal laki-laki itu, mahasiswa yang selalu berhasil menangkap matanya. Rindunya menemukan pemiliknya. Rahmad.


Graduation!

Thursday, May 22, 2014
Hai, angsajenius muncul lagi disini! Cling!

Selasa, 20 Mei 2014, bertepatan sama Hari Kebangkitan Nasional alias National Wake Up Day (istilah dari Icuk Simarmata-nya Kos Kosan Gayam), anak-anak SMA se-Indonesia tengah berbahagia karena kemaren adalah pengumuman kelulusan UN. Lagi-lagi harus berbangga sama almamater gw, SMA N 1 Purworejo karena kabarnya untuk prodi IPA menduduki peringkat 3 dan prodi IPS menduduki peringkat 1 se-Jawa Tengah. Applause!

Kemaren pula adek gw semata wayang resmi menjadi alumni SMA tempat Bapak dan si anak sulung, gw, menerima ijazah SMA. Bersemat gelar Muda Ganesha, MG 2014. Luar biasa pasti rasanya, campuran haru, seneng, lega dan sedih karena harus meninggalkan seragam putih abu-abu yang (katanya) paling berwarna. Kegiatan sebelum pengumuman kelulusan buat adek dan gw enam tahun lalu jauh berbeda. Gw adalah penonton yang rajin untuk banyak acara, datang tepat waktu dengan dresscode sesuai ketentuan, menikmati acara dan foto-foto. Sementara kemaren adek ngakunya jadi ketua panitia pensi yang bikin tiap hari pulang malem. Whoa selamat Muhamad Yusuf Hakim, MG 2014! My baby boy is so grown up, proud!

Kelulusan selalu jadi a moment to remember, lulus kuliah, lulus SMA, lulus SMP, lulus SD dan lulus TK. Bedanya momen lulus SD rasanya biasa aja karena gw belum paham arti dan dampaknya. Sedangkan lulus TK isinya nangis sejadi-jadinya karena gw mau dimasukin ke SD deket rumah, SD yang beda sama temen-temen TK. 

Seperti ungkapan di buku dan film Manusia Setengah Salmon, hidup ini penuh dengan perpindahan. Seneng atau engga, terpaksa atau engga, banyak hal harus berubah. Lingkungan, tantangan; ada pekerjaan yang berubah dan ada orang-orang yang datang dan pergi. 

Karena cerita lulus SMA dulu belum punya blog, maka ini adalah sedikit cerita dari sekolah favorit di kabupaten kecil yang sering luput dari peta itu. 

18 teman-teman seperjuangan
Tring! Grup whatsapp kelas masih rame, isinya sebagian besar adalah obrolan geje dan ngecengin si calon manten, Marissa yang bakal mecah telor, jadi orang pertama di aksel angkatan pertama SMA N 1 Purworejo yang menikah. Tiba-tiba kemarin kami diingatkan kembali bahwa tanggal 20 Mei adalah pengumuman kelulusan. Pikiran gw ngga bisa ngga terlempar pada momen yang sama enam tahun lalu.

Dari kos Bu Pram, bersama mbak-mbak kos dan Ratih, roommate-classmate-masuk telat mate, berkostum rok hitam, atasan putih dan dasi hitam kami berjalan dengan hati yang hangat. Kabar kelulusan 100% sudah beredar sebelumnya, no more galaw tinggal dagdigdug khawatir nilainya lulus mepet ><

Prosesi pelepasan siswa kelas XII berjalan sesuai prediksi, merinding, dan penuh air mata. Banyak yang dapet nilai 10 dan maju ke panggung, gw bukan salah satunya :3

the girls
Kata orang masa SMA adalah masa paling bahagia. Ah nggak juga. Kuliah juga ngga kalah bahagia kok. Say it because of the restriction to join ekskul. Gw cuma tahu, SMA banyak banget ngasih pelajaran. Bahwa hidup tak selalu di atas, ada kalanya kita ada di bawah. Bahwa dalam persaingan yang ketat sekalipun, persahabatan tetap di atas segalanya. 

Dear adek-adek MG dan seluruh siswa kelas XII yang baru lulus, setelah ini temen-temen sekelas kalian ngga akan ada di petak ruangan yang sama dengan kalian tiap hari. Ngga ada lagi pelajaran olah raga berebut bola basket dan balapan lari seminggu sekali. Ngga ada lagi ulangan sambil lirik-lirik. Ngga ada lagi jajan soto di kantin tiap istirahat. Lalu setelah itu kalian akan kuliah di tempat yang berbeda. Secepat itu hidup berubah.

Dan ini, sudut-sudut yang gw rindukan, yang sekarang sudah banyak berubah. Ini, sudut-sudut yang menyimpan sejuta cerita.




Selamat adek my baby bolo-bolo hahaha, predikat MG 2014 sudah tersemat. Semoga bulan Mei banyak berita bahagia :*

Shalihat Show

Sunday, May 11, 2014
Sibuk di sana-sini, kerja, kuliah, menyambut ujian nasional, PKL, skripsi, bukan halangan buat wanita-wanita tangguh SPJ Bandung buat ngadain Shalihat Show. Iyey! Dari namanya aja pasti udah terbayang bahwa acara ini ditujukan buat muslimah. Lo wanita, then we will welcome you :)


Konsep dari Shalihat Show adalah pencerdasan wanita modern tentang pentingnya jilbab dan bahwa jilbab ini bisa dipake buat acara apapun. Formal maupun casual, bentuk muka bulet, kotak maupun oval, warna kulit sawo matang, putih, pink atau orange. Konsep ini dikemas dalam lomba menulis kisah berjilbab, talk show bareng shalihat kece yang humble luar biasa padahal semangat geraknya sungguh uwow menakjubkan, foundernya Peduli Jilbab, Amalia Dian Ramadhini. Ngga cukup sampe situ aja, di Shalihat Show juga ada fashion show yang beda dari semua fashion show yang pernah ada :p

Persiapan yang lumayan ngedadak jadi titik lemah kami, tapi semangat gerak ngajakin saudari-saudari buat lebih paham dan cinta sama jilbabnya selalu berhasil jadi bahan bakar lagi. Shalihat Show diadain di IBF (Islamic Book Fair) Bandung yang bertempat di Landmark Braga. Dari awal masa brainstorming ide, mba Amal dengan tegas bilang bahwa untuk fashion show ngga boleh ada lenggak-lenggok, no tabarruj dan jangan pake heels supaya jalannya biasa aja. Agree, karena memang tujuan dari fashion show ini buat ngasih alternatif dan gambaran buat shalihat yang pengin berjilbab sesuai aturan di event-event spesial.

Fatimah & Dayu, duo kacamata MC Shalihat Show

"Mbak maaf nih audience ngga banyak karena jadwal kita ngaret dari setengah satu jadi jam dua." kata gw sesaat sebelum sesi Peduli Jilbab mulai.
Dan untuk kondisi serupa, jawaban ini adalah jawaban paling menenangkan yang pernah gw denger. "Nggapapa. Nggapapa. Nabi Nuh aja dakwah ratusan tahun pengikutnya sedikit, cuma sekapal. Jangan patah semangat gara-gara penontonnya sedikit. Kita harus tetep ngasih yang terbaik."

Nyeeeeesssssssss....... adeeeemmm... Kaya tanah gersang disiram ujan.

Didaulat jadi moderator, sepanggung sama shalihat kerenz satu ini bener-bener penghargaan buat gw. Dalam 40 menit sharingnya, gw dibikin merinding berkali-kali.



Mba Amal pernah selamat dari makan babi 'cuma' karena pake jilbab, sedangkan tiga temennya ngga dikasih tahu sama tukang jualannya kalo mereka sedang beli babi karena mereka ngga pake jilbab. Subhanallah, Allah menyelamatkan saya dari barang haram hanya karena saya pake jilbab.

Jilbab berfungsi agar kita mudah dikenal. Bayangpun kalo lo ada di lingkungan baru dan sudah masuk waktu shalat. Sudah menjadi kewajiban kita buat ngajakin saudara kita dalam kebaikan, shalat. Ketika seorang teman baru namanya bukan nama Islam, kalau bukan jilbab, dari mana kita bisa dikenal sebagai muslim?

Jilbab itu tidak membatasi. Pernah berpikir "Duh kalo pake jilbab gw harus nunduk terus, jalannya pelan-pelan, ngomongnya harus pelan." Nggak, jilbab sama sekali ngga membatasi, ia justru melindungi.

Lo pake krim pemutih atau sunblock dengan SPF tinggi? Seberapa tinggi? Krim sejenis itu SPFnya sekitar 15-30, jilbab, hanya dengan memakainya, SPFnya udah bisa mencapai angka 50 tanpa harus pake krim lain lagi.

Penelitian dari dokter Dewi Inong dan temen-temennya menemukan bahwa penyakit yang membunuh wanita terbesar di dunia adalah kanker kulit. Oleh karena itu di Australia beberapa tahun silam ada gerakan Ayo Memakai Baju, ngajakin perempuan stop pake baju mini.

Jilbab dan baju panjang ini kuno? Sok mangga cari berapa tingkat kebocoran ozon dan apa bahayanya buat kulit. Masih mau ngatain jilbab ini kuno?

Ah laki-laki ngga pake jilbab tuh. Iya, karena memang ketebalan kulit wanita dan laki-laki ini beda, wanita jauh lebih tipis dan rentan terhadap sinar ultraviolet.

Nah teruuuussss... kemerindingan ngga berhenti di situ aja. Hijab dan jilbab itu beda saudara-sudara. Hijab itu pembatas, papan itu hijab, pakaian itu hijab. Setiap jilbab adalah hijab, tapi nggak setiap hijab adalah jilbab. Dan yang disebut jilbab ini menutup seluruh tubuh kecuali wajah dan telapak tangan. Yoookkk tengok lagi pergelangan tangannya aman ngga? Kaki aman ngga? Rambut aman ngga?

Eh kakak aku ngga pede pake jilbab soalnya aku jadi keliatan tembem, trus jadi ngga cantik. Trus aku keliatan item, nanti jodohku susaah. Wah wah kalo keluhannya gini, coba buka Quran di surat Al Ahzab ayat 59. Disitu jelas Allah bilang kalo fungsi jilbab itu supaya kita mudah dikenal dan terlindung. Terlindung termasuk dari hal-hal yang ngga wanita inginkan. Allah sayang sama kita :)

Eiiitsss jilbab juga bukan pakaian buat pengajian aja yak. Jilbab ini pakaian sepanjang masa. Apapun acaranya, kapanpun waktunya, jilbab dong dresscodenya. Sharing bagian ini dilanjutin dengan definisi cantik yang harus kita, wanita, pahami. Cantik itu bukan tinggi langsing kulit putih kaya artis-artis yang perawatannya ngabisin puluhan juta. Nehi *sambil geleng-geleng India*.

Cantik datang dari hati yang bersyukur. Allah menciptakan makhlukNya dengan sempurna, untuk apa mengubah sesuatu yang sudah sempurna? Kalo aplikasi dan karya punya hak cipta, badan juga punya hak cipta. Allah penggenggamnya, bukan manusia, bukan dokter bedah plastik, bukan tukang salon, bukan tukang tato. Manusia ngga punya hak mengubah, apalagi emang pada dasarnya udah sempurna. Jadiii, tak perlulah cukur alis, pake krim-krim pemutih yang antah berantah bahan dasarnya, ditato atau operasi plastik. Perawatan beda ya dengan mengubah ciptaan. Lotion tentu perlu untuk menjaga kulit kita, mensyukuri bahwa kita dikasih kulit sedemikian rupa. Bedak perlu untuk menjaga wajah dari paparan sinar matahari langsung. Seperlunya saja, bukan yang berlebihan a.k.a. tabarruj a.k.a. dandan menor yang bikin pangling saking lebay dan tebelnya. Dandannya lama, kena wudhu, shalatnya lima menit, poles make-up lagi setengah jam. Duh.

Itu diantara materi sharing di Shalihat Show kemaren. Seruuuuuww!! Nah keseruan belum berakhir, dilanjut dengan fashion show pakaian casual dan gaun wisuda & walimah. Modelnya ada Putri dan Nidya dari Poltekkes TNI AU, Melfi dari Telkom University dan Anna & Fina, personil SPJ Bandung. Ngga ada lenggak-lenggok, ngga ada make up artist yang perlu dibayar mahal karena gw dan mereka sendiri yang dandan, ngga perlu pake hotpants atau pamer kaki kemana-mana, dan ngga ada acara poles make up berkali-kali.




Berbagi selalu menyenangkan ya :)

Kemaren mba Amal ngajak suami dan anaknya. Terang saja Haifan jadi rebutan anak-anak SPJ, dan hebatnya adalah Haifan mau diajak siapa aja tanpa nangis, anteeeengg seolah tahu bahwa umma dan abinya musti ngurus ini itu. Bahkan pas gw gendong keliling IBF lantaran mba Amal lagi diwawancara media massa dan suaminya lagi ngurus sponsor event di luar IBF, doi anteng aja tuh ngga ada nangis atau rewel. Setengah jam lebih, sampe tangan pegel karena posisi gendongnya harus sesuai keinginan si raja kecil itu. Pas ketemu abinya pun, dia ga nangis atau minta digendong abinya tapi tetep anteng di gendongan gw. Takjub!



juara-juara lomba menulis kisah hijrah berjilbab
Sepanggung sama founder Peduli Jilbab ini merupakan satu kehormatan buat gw. Disadarkan lagi sama Allah bahwa banyaaakkk yang belum gw tahu dan musti gw pelajari lagi. Benerin kerudung, kencengin tali sepatu, hap aku siap!

Rahmad

Friday, May 09, 2014
Mataku mengerjap-ngerjap memandangi bangku kosong di depan ruang admin jurusan kampus, IT Telkom, salah satu kampus swasta paling tersohor di Indonesia. Ingatanku lalu terlempar pada detail dua tahun lalu yang masih sangat lekat tanpa cela. Rentetan kejadian yang tidak akan ku lupa. 

“Rahmad!” suaraku membuatnya menoleh. Gerakan yang sangat ingin kuabadikan dan kuputar berulang dalam mode diperlambat. Untuk sebagian orang ini pasti terkesan lebay karena aku pun pernah berpikir demikian. Tapi entah, ada yang berbeda yang membuatku ingin dia tetap tinggal. Dan hari itu jelas bukan hari yang kutunggu-tunggu karena hari itu adalah hari dimana dia diputuskan tidak berstatus mahasiswa lagi. Itu juga berarti dia akan segera meninggalkan kampus, meninggalkanku, meninggalkan ribuan jejak di setiap sudut kampus yang bisa kulihat. 

Sebelum aku bercerita lebih jauh, aku merasa perlu memperkenalkan siapa aku dan siapa laki-laki yang ingin kuabadikan tatapannya itu. Laki-laki yang bernama Rahmad. Laki-laki yang sama sekali tidak meninggalkan kesan istimewa pada perkenalan pertama kami. Tapi kesan biasa itulah yang justru menjadikan kami cair tanpa ada sekat atau sikap yang dibuat-buat. Rahmad adalah laki-laki yang paling kupercaya di kampus. Dia tahu hampir semua hal tentangku. Aku tak tahu sepenting apa keberadaanku buatnya. Aku hanya tahu aku membutuhkannya dan dia selalu ada bahkan sebelum kuminta. Dia adalah pribadi yang tertutup, selalu menjadi pendengar yang baik, memberikan saran-saran logis yang tidak pernah terbersit dalam kerangka berpikir wanitaku. Dia selalu menawarkan bantuan, dan dia selalu berhasil membuatku tertawa.

"Eh, lo Sil. Nggak ngasih selamat nih?", Rahmad berujar enteng dengan senyum lebarnya.
"Iya kaaaak ini gw mau ngucapin. Selamat yaa! Sarjana Teknik ih keren banget. Udah bukan mahasiswa lagi."
"Hahaha, makasih yak. Buruan nyusul makanya biar tahu kaya apa rasanya jadi sarjana."

Rahmad berlalu, membereskan administrasi sidang kelulusannya. Bisa kubayangkan betapa enteng hatinya saat ini. Perasaanku, jauh lebih kompleks dari yang ku kira. Aku senang kakak tingkat favoritku lulus tepat waktu dengan nilai A, aku senang perjuangannya selama ini berbuah manis. Aku tersenyum dan aku mengucapkan selamat, tapi di balik itu ada setitik rasa kehilangan. Aku tahu dia akan segera pergi dari sini. Egoisme yang sulit dipahami.



Dia datang begitu saja dan ingin pergi begitu saja, tanpa tahu betapa sulit menghapus bayangannya di setiap sudut kampus.

bersambung