Kisah Djati part 2: Upacara Adat Jawa & Hari Minggu Cerah Ceria

10 Desember lewat sudah. 22 tahun sudah gadis manis berdagu lancip itu menjadi istri lelaki tampan berkumis tipis. Pernikahan mereka kini dikaruniai 2 orang anak yang lucu nan imut-imut, dan gw salah satunya #tepokjidat #tepoktangan. Read this post first

10 Desember 1989 lalu, di Cokroyasan berlangsunglah pernikahan mereka. Pernikahan yang menurut gw ga mewah, tapi tetap elegan. Tradisi Jawa tampak dalam upacara pernikahan mereka, ya karena keduanya memang asli dari Jawa. Lebih tepatnya satu kabupaten Purworejo, umm, satu kecamatan malah :D . Busana pernikahan itu adalah adat Jawa. 

setelah googling, foto ini paling mirip (tengah) so sorry foto pernikahan Bapak & Ibu ada di rumah dan belom di-scan 
Rentetan upacara pun dilaksanakan, mulai dari lempar-lemparan daun sirih, injak telor buat mempelai pria, mempelai wanita membasuh kaki mempelai pria, kacar-kucur (nuang beras & uang receh) dan sebagainya gw ga hapal. Sebenernya sih dulu pas SMP ada pelajaran tentang upacara pernikahan adat Jawa di pelajaran Tata Krama, oh meen tapi mecin dan chiki-chiki udah berhasil mendegradasikan ingatan gw sampe sekarang gw ga hapal lagi. Dulu hapal di luar kepala artinya hapal mampus sambil merem juga bisa, sekarang hapal di luar kepala maksudnya ingatan itu bener-bener di luar kepala dan ga bisa di-reload lagi. Oke fokus fokus haha.. Anyway kalo beda daerah gimana yak? Kaya Aliya sama Ibas? bisa-bisa #mangut-mangut #mangutlele

Eh sebelum lanjut, lo tau ga sih kalo sebenernya Aliya punya adek-adek yang ga diakui?? astagaaa ini emang parah banget. Gw ga yakin adek-adek Aliya ini diundang pas Aliya nikah kemaren. Siapakah mereka? yak dan mereka adalaaaahh.. Ibtidaiyah dan Tsanawiyah (baca: Madrasah :P ) hahaha semoga abis ini gw tetep aman dan ga ditangkep polisi lalu lintas blog :)

Sekarang, 22 tahun sudah berlalu, dan mereka berdua telah berhasil mewujudkan mimpi-mimpinya. Punya 2 anak yang (semoga) solehah dan soleh yang bisa jadi pemberat timbangan amal mereka kelak, rumah sendiri, dan 2012 nanti mereka akan naik haji insyaAllah. Dan atmosfer rumah sederhana mereka yang selalu penuh tawa, itu yang paling membuat mereka betah di rumah. 

Bapak, lelaki tampan berkumis tipis yang sekarang ga punya kumis sama sekali, berubah gendut dan tetap ganteng; dan Ibu, wanita berdagu lancip yang tetap manis; tiap hari mereka mengajak gw dan adek gw (kalo pas di rumah) bekerja sama dan menikmatinya. Misalnya? Hari minggu, hari libur sekolah yang berarti hari keluarga. Hari minggu di keluarga gw adalah bangun pagi, Ibu & gw masak, Bapak nyuci mobil, adek gw nyapu & ngepel rumah. Abis sarapan, gw atau Bapak nyapu halaman rumah yang luasnya segambreng-gambreng, Ibu nyuci baju, adek gw nyuci motor. Siang paling enak adalah di ruang tengah rumah sederhana gw, sembari dengerin radio atau mp3 Ebiet G. Ade pilihan Bapak sambil ngobrol santai dan baca majalah. And it full of laughter! 

Kata Ibu "Ibu ga mau pake pembantu Ma, mengurangi kesempatan Ibu dapet pahala itu." Wow sekali Ibu gw :)

No comments:

Post a Comment

Drop your thoughts here, yea feel free!