Ya atau Engga: Memilih Dream Bubble

There comes a time when you have to chose between two.
Gw adalah mahasiswa biasa yang belom lulus. To be honest, I'm telling you, I am really really an ordinary student. Di kelas sangat hobi tidur walaupun entah kenapa hampir selalu sukses ngejawab pertanyaan dosen beberapa detik setelah membuka mata, lalu tidur lagi abis ditanya. Aktif di BEM sejak tahun pertama sebagai anak magang bernama Basis Massa di departemen Pendidikan dan Kaderisasi (Pendekar), lalu ditolak di BEM 2009 di departemen Pendekar. Sempet sakit hati lalu membatin dalam hati "Oke liat aja ya kak, kakak bakal nyesel nolak aku di Pendekar. Aku pasti brilian di Wirausaha. Akan ku buktikan!", seriously. Sakit hati nggak sih, di saat lo pernah magang di departemen itu, dan lo justru ga masuk ke departemen tersebut yang masukin orang-orang baru, padahal menterinya saat itu pun orang baru yang ga gw tahu siapa. Intinya waktu itu gw sempet kesel. Sampai akhirnya kak Fuad merekrut gw di departemnnya, Wirausaha. And I just simply falling in love with WU <3 Sampe semester tujuh masih aktif di BEM dengan spesialisasi WU. Ga banyak aktif di kepanitiaan, tapi jadi asisten lab tercinta Prodase sejak 2009 dan salah satu dari 9 asisten pertama lab Prodase walaupun gw juga ga expert apapun di lab. IPK ngga outstanding-outstanding amat tapi masih bisa sangat gw syukuri entah kenapa bisa setinggi itu. Simply said, I am really really an ordinary student.
posisi favorit tidur di kelas *selalu tertangkap kamera temen sebelah*
Gw ambisius, ya bisa dibilang begitu. Gw selalu berprinsip untuk ngambil semua peluang yang ada di depan mata, karena gw selalu percaya sama "kerjain dikit-dikit, ntar juga beres sendiri", dan gw sangat percaya bahwa peluang itu nggak selalu datang dua kali. Itu kenapa gw jadi terkesan ambisius. Lebih dalam, gw yakin gw punya potensi lebih yang bisa gw gali lagi dan lagi dan lagi lewat peluang-peluang itu. Gw bukan orang yang banyak berpikir, gw banyak bertindak dan biasanya berpikir di tengah. Gegabah? ya mungkin begitu. Gw nggak bisa diem, kaya bola bekel yang selalu pengen mental kesana sini setinggi-tingginya. 

Sampai akhirnya, dua hari yang lalu, telepon menegangkan itu datang. 
"Rahma, kamu masih di kampus?" gw jawab dengan bingung "Iya Pak, masih. Udah ngga ada kuliah sih, tinggal TA." lalu suara di ujung Sonia (nama hape gw) nanya lagi "Lulus kapan?" Insting kecurigaan gw mulai bereaksi. Ini si bapak yang pernah ngasih pelatihan kok nanyain kapan gw lulus segala si.
"Ini lho, saya ada dua proyek gede sebentar lagi. Kamu mau join nggak? Gampang si nanti kamu bisa bolak balik Bandung kalo mau ngurus TA." Lalu telepon ditutup dengan pertanyaan yang mengawang dan rasa senang bukan kepalang.

Saking senengnya, gw nggak bisa mikir jernih.hahaha. Akhirnya whatsapp langsung meluncur pada seorang sahabat buat minta pertimbangan. Dia nge-list apa aja yang musti gw tanyain dan gw lakukan. Termasuk mempertimbangkan posisi gw sekarang. Ya, posisi gw sekarang yang terikat sebagai Steering Committee PDKT 2012 dan punya tugas suci (istilah Bapak) yang belom juga kelar.

Gw bener-bener bingung. Bayangpun, lo dapet tawaran join proyek di bidang yang lo sangat minati dan lo pun udah terlanjur jatuh cinta sama kerjaannya. Di sisi lain, lo terikat dengan kepanitiaan ospek sebagai SC, dan join PDKT ini bukan suatu langkah setengah hati tapi keputusan yang mantap dan penuh pertimbangan. Bingung tingkat dewa. Akhirnya, shalat istikhoroh gw lakukan malemnya dengan kemantapan 50-50 antara ambil dan enggak. Sebelumnya gw udah cerita sama Bapak Ibu tentang detail tawaran ini. Keputusan sementara malem itu, mereka menyerahkan sama gw dengan pertimbangan harus bolak balik Jakarta Bandung seminggu 2-4 kali, TA yang musti tetep dikerjain, kesehatan dan keselamatan gw. Bangun tidur, gw sadar ada keputusan yang harus segera sesegera mungkin gw ambil. Ya atau Tidak. Sampai akhirnya telepon Ibu masuk jam 7-an.
"Nduk, kalo nggak usah diambil tawarannya, kamu kecewa nggak?" pertanyaan yang membuka telepon pagi itu. "Hmm, kayanya engga Bu, kenapa e?" lalu Ibu menjelaskan kekhawatirannya yang muncul mendadak pagi itu. Kuatir anak ceweknya ini bolak balik Jakarta Bandung sesering itu, gimana kesehatannya, keamanannya keseringan di jalan, dan takutnya malah ga bisa fokus di dua-duanya dan kinerja gw justru jelek. Kekhawatiran yang sangat logis. Ini jawabannya! Sebelum tidur, gw juga terlibat obrolan serius dengan seorang sahabat yang lain. Berbagai pertimbangan dia kasih, termasuk dari sudut pandang PDKT. Dan hasil obrolan itu adalah 60-40 ambil-enggak.

Bulat sudah! Then I know what to do and what to chose! Gw tolak tawaran itu. Kenapa? Well first, gw nggak yakin sekuat itu buat bolak balik Jakarta Bandung sesering itu. Gw sendiri nyasar di masjid Istiqlal nyari pintu keluar, ini mau bolak balik Jakarta. Bisa sih, tapi mungkin nyasar-nyasar dulu, dan ga yakin gw tetep fit karena kecapean. Kedua, TA gw yang belom kunjung beres hahaha *tertawa miris* dan pasti ngaret kalo gw ambil proyek. Ya at least kalo ga gw ambil, gw bisa sedikit lebih fokus bikin TA. Doakan doakan doakaaan!! huaaaaa.. Ketiga, tentang PDKT. Ini amanah yang gw ambil dengan niat bulat dan bukan niat yang setengah-setengah. Jelas anak-anak gw di humas bakal banyak gw tinggalin ntar, dan partner gw di Humas juga, Fajar, kasian dong jadi single parent buat anak-anak Humas :P

Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat.
Hadist Rasul terbilang demikian. Ketika gw ambil tawaran ini, manfaatnya buat gw doang. Gw pribadi seorang, walaupun sah-sah aja gw mencari keuntungan dan manfaat buat diri sendiri. Tapi di PDKT, 14 orang keluarga SC butuh gw. Calon anak-anak Humas butuh gw. Partner Fajar butuh gw. OC PDKT butuh gw. Peserta PDKT, maba miba nantinya, butuh kontribusi gw. PDKT butuh gw. Dan manfaat yang bisa gw kasih bukan cuma buat diri gw sendiri tapi buat 1890-an orang. Sebanding banget nggak sih pilihannya?
these people, SC PDKT family, need me <3
Jelas udah jawaban dari shalat istikhoroh gw. Dukungan Ibu buat ga ngambil membulatkan keputusan gw jadi 100% ga usah ambil. Dan Ibu pun juga nasihatin untuk ga kecewa, nanti bakal ada gantinya rejeki yang lebih baik lagi. Bisa jadi bakal ada tawaran lagi, dan itu di Bandung. Ya Ibu, aku nggak kecewa. Entah kenapa, ikhlas. 

Well the point is, bukan soal tawaran proyeknya, gw tahu kok banyak mahasiswa yang jauh lebih hebat dan udah ngerjain proyek ini itu sambil kuliah. Dan bisa. Tapi, yang pengen gw garisbawahi adalah gimana gw akhirnya memutuskan untuk ENGGAK. Dalam hidup, pilihan selalu ada, and it's our responsibility to chose whether to take it or dump it, to turn right, left, back or go ahead. This is the art of deciding. 

Harus ada yang dikorbankan dalam setiap pilihan karena itu bagian dari konsekuensi.
Rahma yang dulu, pasti bakal sangat kebawa euforia ambil tawaran ini. Rahma yang gw kenal adalah pribadi super multi tasking yang berprinsip semuanya pasti bakal beres, ambil aja dulu semua peluang. Gw bahkan ga sadar gw udah berubah cukup banyak. Lingkungan, organisasi dan pengalaman membentuk gw. Terima kasih. Gw banyak belajar. 

You can't do everything, but you always have options to chose. Decide, then make your choice your best one.
my dream bubbles

p.s. Gw kaya bole bekel yang ga bisa diem, tapi plis jangan bilang gw juga bulet kaya bola bekel :$ hahaha

Have a blast fruitful weekend :)
Blossom!

2 comments:

  1. kunjungan gan.,.
    bagi" motivasi.,.
    Saat harapan mu belum terwujud maka jaganlah kamu berhenti berharap dan teruslah berusaha.
    di tunggu kunjungan balik.na gan.,.,

    ReplyDelete
  2. You cant do everything and you cant please everyone

    Saya juga pernah dalam kondisi gini, waktu rekonstruksi Aceh pasca Tsunami, saya ditawari kerja di Aceh saat sedang skripsi. Dan saya harus menolak tawaran itu.

    Just make sure that u maintain relationship with the one who offered u the job. :)

    ReplyDelete

Drop your thoughts here, yea feel free!