Syukur Tanpa Pembanding

Seringkali kita bersyukur atas apa yang kita punya setelah melihat orang lain tidak punya hal yang sama. Seringkali kita sadar hidup kita begitu berharga setelah menyaksikan orang lain mengakhiri hidupnya dengan sia-sia. Dan seringkali kita ingat setelah mengetahui orang lain lupa. Kenapa harus ada orang lain dalam syukur, sadar dan ingat? Kenapa kita sering butuh pembanding?

Bersyukur atas sehat setelah melihat orang lain sakit, atau bersyukur atas nikmat selamat setelah menyaksikan orang lain terkena musibah. Bayangkan jika kita adalah mereka yang diperbandingkan.

“Alhamdulillah gw selamat, rumah ngga kebanjiran sampe kehilangan banyak barang berharga kaya di sono.”
“Syukur gw TAnya lancar, ngga susah, adaaa aja masalah kaya si itu.”

Hello, can we change the subject, please? Sesakit itu membayangkan seandainya gw adalah orang yang diperbandingkan, yang rumahnya kebanjiran misalnya.

Sesulit itukah syukur ada dalam wujudnya yang utuh? Tanpa pembanding. Cukup apa yang ada, nafas misalnya, itu saja.

ilustrasi: silakan terjemahkan sendiri. credit: Departemen Pecinta Rasul, WU 2010

3 comments:

  1. susah emank klo g mbanding2in... kenyataannya klo kita hidup sama orang banyak.. dan selalu mendapati sesuatu yang bisa kita syukuri dari orang lain.. mungkin itu salah satu keuntungan manusia sebagai makhluk sosial.. :angel

    ReplyDelete
  2. mak gw gabisa terjemahin ilustrasinya. terjemahannya apa mak? haha

    ReplyDelete
  3. Alhamdulillah....
    Nice posting Mba... ^.^d

    BTW, masih blum ngerti terjemahan ilustrasinya apa? -,-

    ReplyDelete

Drop your thoughts here, yea feel free!