Bukan Salah Kita, Bukan Salah Siapa

Di dunia ini, ngga ada orang bodoh. Yang ada cuma perbedaan akses informasi.

Anak-anak di pelosok negeri yang minim fasilitas adalah bintang jika terfasilitasi.
Mereka yang tertulis ranking bernomor besar adalah bintang jika tidak dipaksa mengerti segala.
Mereka yang berkemampuan khusus, yang sering dipandang remeh sebelah mata tidak bisa ini tidak bisa itu adalah bintang pada bidang yang disukainya.

Masalahnya adalah perbedaan akses informasi. Mereka dengan kebutuhan khusus, kalo tahu metode belajar yang tepat, akan bersinar juga, ngga kalah sama mereka yang secara kasat mata dipandang sebagai manusia segala bisa. 
Mereka di pedalaman yang sering ngga tahu ini ngga tahu itu, kalo dikasih fasilitas yang sama dengan mereka yang ada di kota, akan bersinar juga, ngga kalah luas pengetahuannya dengan orang kota yang mau cari apa semua ada.

Masalahnya lagi adalah persepsi. Segampang itu tenaga pendidik di sekolah memberi label si ini pintar si ini bodoh, cuma berdasarkan hasil di atas kertas mata pelajaran tertentu.
Masalahnya lagi, di banyak daerah di negeri ini, ilmu eksak macam matematika dan IPA masih jadi primadona, dan itu berarti ilmu sosial dipandang remeh. Anak-anak IPS dipandang ngga pintar cuma karena mereka ngga bisa dapet nilai sembilan di pelajaran fisika, kimia atau matematika. Ada, fenomena ini ada. 
Paling sedihnya, orang tua siswa ada juga yang ikut berpikir anak IPA selalu lebih pintar dan bermasa depan cerah dibanding anak IPS, apalagi Bahasa. 
Dan siswa-siswa kelas akselerasi dianggap manusia segala bisa dengan standar nilai sembilan di semua mata pelajaran. Tak ada toleransi buat mereka, anak-anak yang dipaksa dewasa lebih cepat, selain bisa mendapatkan nilai di atas rata-rata. Caranya? Les sampai malam tiap hari hingga ada bagian dari diri mereka yang tanpa sadar tercuri.

Bukan salah kita, karena persepsi turun-temurun masih susah diubah. Kenyataannya, masih banyak yang beranggapan pekerjaan dengan masa depan cerah adalah pekerjaan-pekerjaan yang pasti. Engineer, dokter, akuntan, atau pegawai negeri. Seolah-olah ribuan pekerjaan yang lain terkesan tidak pasti. Padahal Indonesia kita ini kaya, dan itu artinya jurusan lain juga punya peluang yang sama untuk jadi primadona.

Bukan salah kita, bukan salah siapa. Ini juga karena perbedaan akses informasi. Seandainya orang-orang yang tinggal di lingkungan homogen mendapat informasi yang sama dengan mereka yang tinggal di lingkungan heterogen, paradigma (kolot) itu mungkin akan habis terkikis walaupun pelan. 

Masih soal persepsi. Sial betul orang dari suku tertentu yang dicap negatif oleh suku yang lain hanya karena informasi yang mereka dapat dari media. Atau dari sedikit contoh di lingkungan mereka yang homogen. Seandainya mereka merasakan kehidupan yang lebih heterogen seperti sebagian yang lain, persepsi itu mungkin tak pernah ada. Karena banyak dari kita cenderung langsung percaya dengan berita miring dan setengah percaya dengan berita tak miring.

Bukan salah kita, bukan salah mereka, bukan salah siapa. Ini lagi-lagi masih karena perbedaan akses informasi.

No comments:

Post a Comment

Drop your thoughts here, yea feel free!