Puisi Terakhir WS Rendra, Makna Sebuah Titipan

Not much saying so here we go, the last masterpiece by one of my most favorite poet. Rendra wrote this poem while he was hospitalized back then on July 2009 and was helped by his friend, Adi Kurdi (oh you remember him? Selamat pagi emak.. Selamat pagi Abah.. Yeaaah he was the Abah in Keluarga Cemara) ^_^ Have a good read, read this poem carefully so you will get the essence, something Rendra trying to say.

Seringkali aku berkata,
Ketika semua orang memuji milikku…
Bahwa sesungguhnya ini hanya titipan…
Bahwa mobilku hanya titipan-Nya…
Bahwa rumahku hanya titipan-Nya…
Bahwa hartaku hanyalah titipan-Nya…
Tapi, mengapa aku tak pernah bertanya…
Mengapa Dia menitipkan padaku? Untuk apa Dia menitipkan ini padaku?
Dan  kalau bukan milikku, apa yang harus kulakukan untuk milik-nya itu?
Adakah aku memiliki hak atas sesuatu yang bukan milikku?
Mengapa hatiku justru terasa berat, ketika titipan itu diminta kembali oleh-Nya?
Ketika diminta kembali, kusebut itu sebagai musibah…
Kusebut itu sebagai ujian, kusebut itu sebagai petaka…

Kusebut itu sebagai panggilan apa saja untuk melukiskan kalau itu adalah derita…
Ketika aku berdoa, kuminta titipan yang cocok dengan hawa nafsu…
Aku ingin lebih banyak harta, ingin lebih banyak mobil, lebih banyak popularitas, dan kutolak sakit,
Kutolak kemiskinan, seolah semua ‘derita’ adalah hukuman bagiku…
Seolah keadilan dan kasih-Nya harus berjalan seperti matematika…
Aku rajin beribadah, maka selayaknya derita menjauh dariku, dan nikmat dunia kerap menghampiriku…

Kuperlakukan Dia seolah mitra dagang, dan bukan kekasih…
Kuminta Dia membalas ‘perlakuan baikku’, dan menolak keputusan-Nya yang tak sesuai keinginanku…
“Ya Allah, padahal tiap hari kuucapkan, hidup dan matiku hanya untuk beribadah…
Ketika langit dan bumi bersatu, bencana dan keberuntungan sama saja"

No comments:

Post a Comment

Drop your thoughts here, yea feel free!