Dari Puncak Bagdad: Kenapa Penemuan Ilmuwan Islam Tenggelam Sedangkan Di Barat Tidak?

Bismillah. 
Kehidupan pasca wisuda ternyata berwarna banget. Banyak waktu kosongnya, padahal sebenernya banyak yang harus dikerjain, menyelesaikan baca buku-buku yang jumlahnya nambah mulu karena beli mulu tapi dibaca setengah-setengah mulu *sigh

Sekarang buku yang tiap hari gw bawa kemana-mana, gw peluk tiap tidur, gw baca terus walaupun ngga selesai-selesai, adalah Dari Puncak Bagdad: Sejarah Dunia Versi Islam-nya Tamim Ansary. Beliau adalah sejarawan muslim yang lahir dan tumbuh di Afghanistan, sekarang jadi dosen di salah satu universitas di Amerika; dan ya, dengan tetap menulis banyak buku-buku yang tampaknya keren. Buku yang saat ini sedang gw pegang ini adalah buku sejarah dunia yang dilihat dari sudut pandang yang berbeda, dari kacamata Islam. Nyatanya, sebagian besar sejarawan, ketika berbicara tentang sejarah dunia maka yang dibahas adalah sejarah dari sudut pandang Barat yang urutannya udah baku, mulai dari Lembah Nil dan Mesopotamia, lalu ke Yunani dan Roma, Revolusi Perancis hingga bangkitnya negara-negara sekuler dan kejayaan demokrasi. Sangat sedikit bab yang membahas Islam. Padahal nyatanya, Islam pernah sangat berjaya dengan wilayah yang meliputi Timur Tengah, sebagian Eropa dan sebagian Asia. Luas banget! *liat peta dunia* Dan Islam pernah menjadi pusat sejarah dunia, pernah menghasilkan ribuan penemuan brilian, tapi semua itu dianggap kecil dalam sejarah dunia versi Barat. Ah penasaran penasaran? Gw merekomendasikan buku ini, insightful dan ngga tendensius kepada satu golongan. Di buku ini, dijelaskan sejarah mulai dari masa Nabi Muhammad SAW sampai jatuhnya kekaisaran Utsmani dan kenapa pada akhirnya sekarang Barat dan Islam seperti dua dunia yang terpisah seolah ngga kenal.

Gw ngga akan meresensi buku keren ini, you better read it yourself. Gw mau mengutip sebagian isinya. Dan ini adalah tentang awal bangkitnya Revolusi Industri di Inggris, hubungannya dengan penemuan-penemuan brilian oleh ilmuwan-ilmuwan Islam.

Dari Puncak Bagdad, halaman 432.
Di Eropa, Revolusi Industri mencuat dari kemunculan beruntun berbagai penemuan besar selama 1800 M, dimulai dengan mesin uap. Sering kali, kita berbicara tentang penemuan-penemuan hebat seolah-olah semua itu terjadi hanya karena ada, tetapi dalam kenyataannya, oarang tidak mulai membangun dan menggunakan sebuah alat hanya karena alat itu pintar. Terobosan teknologi yang diwakili sebuah penemuan hanyalah satu unsur keberhasilannya. Konteks sosialnyalah yang benar-benar menentukan apakah penemuan itu akan "lepas landas".

Mesin uap memberikan contohnya. Apa yang bisa leih berguna? Apa yang nyata-nyata bisa lebih mengubah dunia? Padahal mesin uap telah ditemukan di dunia muslim lebih dari tiga abad sebelum kemunculannya di Barat, dan di dunia muslim mesin itu tidak mengubah apa-apa. Mesin uap yang ditemukan disana digunakan untuk menggerakkan batang pemanggang sate agar seekor domba dapat dipanggang merata secara efisien pada pesta-pesta orang kaya. (Penjelasan tentang alat ini muncul dalam buku yang ditulis pada 1551 oleh insinyur Turki Taqi al-Din). Namun, selain itu tidak ada aplikasi lain bagi alat tersebut oleh siapapun, sehingga terlupakan.

Kasus lain dalam hal ini: Cina kuno memiliki semua teknologi yang mereka butuhkan pada abad ke-10 untuk memekanisasi produksi dan menghasilkan barang secara massal. tetapi mereka tidak menggunakannya dengan cara itu. Mereka menggunakan mesin-mesin bergigi untuk membuat mainan. Mereka menggunakan turbin yang didorong oleh air untuk menggerakkan jam besar. Jika mereka telah menggunakan mesin ini untuk membangun mesin penghemat tenaga kerja sebagaimana yang melahirkan pabrik-pabrik di Eropa pada abad ke-19, Revolusi Industri hampir pasti akan dimulai di Cina.

Jadi, kenapa tidak begitu? Mengapa penemuan-penemuan ini gagal untuk "lepas landas" sampai semua itu diciptakan di Barat? Jawabannya tidak terlalu terkait dengan penemuan itu sendiri, tetapi dengan konteks sosial tempat penemuan tersebut terlahir.

Ketika orang Cina menemukan mesin beroda gigi, mereka adalah sebuah negara efisien yang sangat terpusat dimana birokrasi kekaisaran mengelola seluruh masyarakatnya. Selain pencatatan dan pertanahan, fungsi utama birokrasi ini adalah mengorganisasi pekerjaan umum. Kegeniusan budaya politik Cina adalah kemampuannya menyerap kelebihan tenaga kerja dengan pembangunan proyek-proyek berskala besar yang berguna bagi publik. Kaisar pertama, misalnya, mengerahkan sekitar satu juta orang untuk bekerja membangun Tembok Besar. Seorang kaisar yang kemudian bahkan mempekerjakan lebih banyak orang lagi untuk menggali Kanal Besar yang menghubungkan dua sistem sungai utama negeri itu. Ya, Cina memiliki teknologi untuk membangun mesin penghemat tenaga kerja, tetapi siapa yang akan membangunnya? Hanya birokrasi kekaisaran yang memiliki kapasitas itu, dan mengapa pula ia harus repot-repot menghemat sesuatu yang dimilikinya dalam jumlah yang sangat banyak? Cina kelebihan penduduk dan tenaga kerjanya murah. Jika banyak buruh dibiarkan menganggur, siapa pula yang akan bekerja menangani urusan gangguan sosia yang ditimbulkannya? Birokrasi. Satu-satunya institusi yang mampu mengindustrialisasi Cina tidak memiliki motif untuk melakukan itu.

Demikian juga, para penemu muslim tidak berpikir untuk menggunakan tenaga uap untuk membuat alat yang akan memproduksi secara besar-besaran barang-barang konsumen, karena mereka tinggal dalam sebuah masyarakat yang sudah penuh dengan kelimpahan barang-barang konsumsi, dibuat dengan tangan oleh jutaan pengrajin dan didistribusikan oleh jaringan perdagangan yang efisien. Selain itu, para penemu itu bekerja untuk orang-orang kelas elite yang memiliki semua barang yang bisa mereka konsumsi dan yang nasibnya dalam hidup tidak menuntut mereka untuk menghasilkan produk apapun - apalagi secara besar-besaran.

***
Nah, gw juga baru tahu tentang hal ini, penasaran memang udah lama, tapi rasa penasarangw terpendam lamaaaa sampai akhirnya gw baca buku ini. Kenapa pula berbagai penemuan-penemuan brilian ilmuwan Islam diklaim oleh ilmuwan Barat sebagai penemuan mereka? Padahal nyatanya beberapa adalah pengembangan dari penemuan awal ilmuwan Islam. Sudah saatnya Islam bangkit, dan pemuda punya peran penting dalam tujuan itu. Selamat pagi dan tetap semangat! *ala Sony Tulung*


1 comment:

  1. wow....fakta "lepas landas" ini juga baru terpikir dipikiran saya... alasan lain juga, (menurut saya sih) pada waktu jaman2 penemuan2 lagi gencar2nya, dunia barat sudah paham bener arti publikasi via media...sehingga gaungnya lebih terdengar dibandingkan para penemu2 aslinya...(*bener ga ya?) :D

    ReplyDelete

Drop your thoughts here, yea feel free!