Cinta, Dari Seribu Empat Ratus Tahun Yang Lalu

Jika kau mencintai seseorang, kau harus menyelamatkan mimpi-mimpinya. Dan yang terpenting, kau harus menyelamatkan kehidupan kekalnya, akhiratnya.
Cinta, salah satu bahasan yang ngga pernah ada habisnya, dan ngga pernah gagal membuat rem senyum-senyum sendiri mendadak blong. Tapi, apakah ia pantas diberi nama cinta jika justru membuat saling celaka? 

Kecenderungan manusia untuk tidak pernah merasa puas terbukti pada tak pernah habisnya keinginan makhluk yang Allah beri kesempurnaan akal dan pikiran ini. Bagus jika tidak puas mengantarkan usaha-usaha pada perbaikan diri, tapi masih bisakah disebut bagus jika ia justru membuat manusia menghalalkan segala cara?

Cinta seharusnya membuat manusia mendekat pada Yang Maha Memiliki cinta. Iya, Dia yang punya nama terbaik dari semua nama yang pernah ada. Allah. Ketidakpuasan seharusnya mendekatkan manusia pada Dia juga, yang mengatur dan menetapkan kejadian-kejadian dan rezeki setiap makhluk. Tak ada yang terlewat, bahkan rayap pun mendapat jatah rezekinya, pun dengan amoeba dan paramecium.

Dan hey tahukah kau, ada seseorang yang begitu mencintaimu 1400 tahun yang lalu? Dia menyebut-nyebutmu berkali-kali selama hidupnya, yang ia bahkan tak pernah melihatmu atau menemuimu. Tapi di saat menjelang ajalnya, dia menyebutmu. Bukan istrinya, ayah ibunya, atau anak-anaknya yang disebut, tapi kau. Ummatii ummatii. Ini cinta, dia memohonkan ampunan untukmu pada Tuhannya, padahal bertatap muka pun belum pernah. Seribu empat ratus tahun yang lalu. Terbukti, cinta tak terbatasi dimensi waktu.

No comments:

Post a Comment

Drop your thoughts here, yea feel free!