Perempuan Itu, Lo dan Gue

Perempuan itu mencoba mengeja kata yang sangat sulit terucap. Gue, elo. Lidah Jawanya belum pernah mengucap kata itu langsung, kata-kata yang hanya dia dengar dari televisi empat belas inchi di rumahnya di desa. Perempuan itu ragu bagaimana pelafalan yang benar dari dua kata itu. Gue, gua atau seperti beberapa teman barunya, gu? Gu? Ah gabungan huruf g dan u itu terdengar tak punya arti. Elo, lo atau lu? 

Tinggal di kota secara mendadak berarti harus menyesuaikan segala rupa, yang bisa jadi sangat asing ketika masih di desa. Perempuan itu, yang lidahnya masih sangat kaku untuk mengucap lo dan gue, berusaha meresapi prinsip dimana bumi dipijak disitu langit dijunjung. Menginjak tanah Sunda dengan mayoritas teman-teman baru dari kota membuatnya harus bisa beradaptasi, mau tak mau. Bukankah bunglon saja pintar beradaptasi, dan perempuan ini diberi akal yang bunglon tak punya? Masa iya dia kalah dengan bunglon.

"Eh iya bentar ya, gue lagi di kosan. Lo tunggu aja di kampus, gue kesana sepuluh menit lagi.", ucap perempuan itu lewat telepon genggamnya yang tidak lebih canggih dari kepunyaan teman-temannya yang dari kota. Sony Ericsson K300i, teman-temannya sudah beralih ke gadget luaran terbaru yang pemberitaannya dimana-mana, blackberry. Perempuan itu bahkan belum pernah tahu seperti apa rasanya memegang blackberry yang terkenal itu. Lo dan gue berhasil dia ucapkan dengan fasih setelah seminggu berlatih di depan kaca.

"Nduk, kamu tu lho orang Jawa. Mbok nggak usah ikut-ikutan lo-gue-lo-gue. Kayak orang Jakarta aja. Aku-kamu wae rak uwis.", kata ibu perempuan itu dalam suatu siang yang hangat di desanya setelah mendengar anak perempuannya menelepon dan menyebut dua kata itu beberapa kali.

Perempuan itu masih menggenggam K300i miliknya, lalu sambil melepas nafas panjang dia meraih tangan sang ibu. 

"Buk. Aku ngomong lo-gue itu bukan berarti aku nggak Njawani lagi, bukan berarti aku ilang Jawane. Lo-gue cuma kupake ke temen-temen tertentu kok biar lebih nyaman pas ngobrol.", ibu masih diam memandang jauh ke depan. Tangannya belum dia lepaskan dari genggaman putrinya.

"Buk buk, temen-temen baruku tuh ya, baik-baik lho", perempuan itu membenahi posisi duduknya, kini menghadap ibu dengan dua tangannya menggenggam tangan kanan ibu. "Nggak cuma orang Jawa aja, banyak yang dari Sumatra, Jakarta, Sunda juga banyak. Sulawesi juga banyak. Seneng ya rasanya punya temen nggak cuma dari kabupaten sini aja. Aku banyak belajar dari mereka."

Ibunya masih mematung dengan pandangan jauh mengawang. Tampaknya dia khawatir dengan pergaulan anak sulungnya yang tujuhbelas tahun hidup di desa dan mendadak harus menjadi anak rantau di kota.

"Nduk, pinter-pinter ya jaga diri. Pinter-pinter milih teman."
Perempuan itu tersenyum, "Nggih Buk. Ibuk juga coba paham nggih, baik itu nggak selalu berarti Jawa, nggak cuma budaya Jawa aja yang baik Buk hehe." Dia mencoba terkekeh sendiri. "Kita orang Indonesia punya nilai universal yang disebut norma, kan Buk? Kan Ibuk yang pernah ngajarin aku gitu. Apalagi kita muslim, kita punya nilai-nilai yang nggak terbatas
daerah atau suku, nilai-nilai yang asalnya dari Allah, yang dulu tiap habis maghrib Ibuk ajari tiap hari pas aku SD, kan Buk? Jangan kuatir Ibuk cantiiik, ya? Ya ya ya?", perempuan itu mulai merajuk sambil cengar-cengir.

Ibunya tertawa. "Ah kamu ni kalau lagi ada maunya aja, bilang Ibuk cantik hahaha. Iya Nduk, Ibuk kadang lupa kamu udah tujuhbelas tahun, udah bisa mengambil beberapa keputusan sendiri. Kadang kok ya rasanya kamu masih kecil, masih sama kaya waktu SD."

Keduanya tertawa. 


credit photo by @ayuningtyas_i, fotografer favorit se-Purworejo <3
Perbedaan ada bukan untuk dihindari, melainkan untuk dijembatani. Salah paham bukan lantas harus dijadikan bahan perdebatan tanpa solusi, karena pada dasarnya salah paham terjadi lantaran perbedaan persepsi, yang lagi-lagi bisa dijembatani. Dengan apa? Dengan komunikasi.

1 comment:

Drop your thoughts here, yea feel free!