Seninya Kosan Baru

Did I tell you that I moved already? Yaay! After the colorful-like-a-rainbow 5 years living under the same roof, you know, finaleh!

Momen pasca lulus yang cukup menyita tenaga buat packing barang sebanyak alaium gambreng ke dalam kardus, ngangkut ke kosan baru dan nyusun di kamar baru dan menyita hati. Ah hati, kenapa harus ikut tersita sih. Meninggalkan tempat yang sudah sangat nyaman memang ngga segampang tukeran sandal. Terlebih, disana banyak kenangan yang tak bisa ikut diangkut dalam kardus. Kenangan ngerjain TP di semester awal kuliah, kenangan begadangan ngerjain tugas sambil nyanyi di depan kipas angin biar suaranya kaya Britney Spears di lagu Toxic, kenangan foto-foto alay pake webcam, kenangan bikin video lipsynch soundtrack filmnya Shah Rukh Khan pake dandan ala artis India tersohor, kenangan terburu-buru ke kampus karena sering kesiangan bangun, kenangan dapet surprise ulang tahun dari jendela, kenangan bersama keluarga kos-kosan PGA depan kuburan, and the most precious, kenangan jungkir balik ngerjain TA selama dua tahun, guling-guling bengong di kasur kalo stuck yang lalu ujung-ujungnya tidur. Luar biasa.

And there I was, found a new place to live, accidentally. Dari obrolan ngalor-ngidul, gw memutuskan untuk ngekos bulanan dengan orang yang baru gw kenal tiga bulan. Kind of exciting huh? Karena hidup bersama, di tempat yang sama, butuh berbagai toleransi. Then it really is a good luck to have her as roommate. Oh anyway she's Tari, energetic and lovely friend I knew just three months before I decide to move to her dorm. 


Ngekos bareng, tinggal di petak kotak yang sama dengan orang lain membutuhkan tingkat toleransi yang sangat tinggi. Kamar bukan lagi hak pribadi tapi hak dan kewajiban berdua. Bukan "bagian gw sebelah sini bagian lo sebelah sana" yang lalu peduli amat sama selain bagiannya. Kebersihan kamar dan kamar mandi adalah tanggung jawab berdua. Air galon juga tanggung jawab berdua. Makanan jajanan bukan cuma milik sendiri. Butuh kepekaan buat paham sama kondisi temen sekamar, sangat butuh.

Pernah gw baca ada quote "Bestfriend is he/she whose weirdness compatible to yours.", iya banget ya? Sahabat terbaik itu selalu punya keanehan (yang lalu kita sebut keunikan) yang cocok sama keanehan kita. Cocok ngga selalu berarti sama, tapi bisa jadi melengkapi. 

Nah, having roommate pun gitu. Having weirdness tolerable to yours. Tingkat joroknya harus tolerable. Gw bukan orang yang super bersih dan doyan banget beres-beres begitu ada yang berantakan. Maka roommate gw harus bisa mentoleransi ini. Kalau dia orangnya bersih banget, minimal kalo lihat berantakan ngga langsung ngomel karena dia paham, gw akan ngeberesin itu semua. Tapi nanti dulu. Itu salah satu contoh simplenya. Kesannya menuntut ya? But seriously, kita ngga bisa tinggal bersama orang yang ngga bisa mentoleransi kita. Misalnya gw punya temen sekamar yang bersiiiihhhh bersinar sunlight :p Ada lho orang yang risih banget lihat buku tergolek nggak pada tempatnya atau ada rontokan rambut yang belum disapu. Bagus siih, bersih. Tapi kalau ngga toleran, temen kamarnya yang akan jadi korban ew serem :p Ketika toleransi ngga ada, suasana kosan ngga akan nyaman karena pasti bakal banyak cekcok. Atau soal lampu tidur. Ada yang ngga bisa tidur kalau gelap, ada yang kalo tidur lampu harus mati. Nah, kalo ngga dikomunikasikan, hal sepele begini bisa bikin hati mengganjal. Aih, punya temen sekamar kosan aja musti begini, apalagi punya temen hidup nanti ya, toleransinya harus jauuuh lebih besar. Apalagi pasti banyak hal dan kebiasaan yang berbeda antara perempuan dan laki-laki. 

Alhamdulillah, Tari toleransinya luar biasa. Gw rajin kok bebersih, haha ini bukan pembelaan diri ya, tapi emang dia lebih rajin dari gw. Tapiii toleransinya tinggi, jadi gw nyaman-nyaman aja. Kami berdebat juga sometimes, ngga selalu akur banget seiya sekata, tapi yaudah. Kalau udah beres bahas, yaudah, beres juga debatnya. Ketika ganti topik, kami kembali kepada state normal. Kami berbisnis Besya bersama. Gw banyak belajar dari dia. Kami tertawa dan bercerita, karena ternyata kami sama-sama extrovert. Good thing for us yay! It's like I am having a sister whom I can learn many things from. How blessed I truly am.

Selalu menyenangkan ya punya orang-orang yang frekuensi becandanya sama, yang sebab ketawanya bisa sama dengan kita. Buat gw, tawa lepas masih jadi salah satu parameter teratas untuk melihat kenyamanan seseorang. Kalau dia nyaman sama gw, dia harus bisa ketawa lepas di depan gw. Aih.

Kelak Allah akan mengumpulkan orang-orang yang Dia rahmati di JannahNya, Ya Rabb semoga Engkau berkenan mengumpulkan aku dan saudariku ini di FirdausMu, dalam kondisi yang jauuuuh lebih baik dari sekarang :)

No comments:

Post a Comment

Drop your thoughts here, yea feel free!