Filter, Kaya Helm Aja

Nggak semua yang lo denger harus lo ikutin! Gw membatin geram dalam hati. Sore ini, seperti biasa, Bandung hujan. Hujan yang semoga penuh berkah, sebanyak tetes air yang jatuh. Tapi emang dasarnya manusia, dikasih panas ngomel, dikasih ujan ngomel juga.

Usai kelas, gw berniat langsung pulang karena ada yang harus gw selesaikan. Apalagi kalo bukan kerjaan yang ditunda-tunda dan tahu-tahu udah mepet deadline. Hujan deras tak bisa dikompromi. Gw udah hapal ritme hujan kabupaten Bandung selatan ini, tapi gw masih mengulangi kesalahan yang sama. Gw selalu ngga bawa payung for simple reason bahwa payung gw bukan payung lipat dan membawanya di pagi hari akan membuat gw seperti panglima yang mau berangkat perang bawa-bawa senjata. Oke alasan itu bisa dipersingkat menjadi satu kata, males. Sigh in C minor.


Jumat ini ada yang spesial. Gw membawa helm karena sebelum ke kampus gw harus ke suatu tempat menggunakan helm. Gw harus ke suatu tempat yang agak jauh sehingga gw harus memakai helm tadi pagi. Alam sadar gw spontan memerintahkan Rahma pakai itu helm dan lo bisa jalan pulang dengan kepala aman terlindung! Dan tanpa pikir panjang, gw pakai helm dan berjalan melenggang. Gw menyusur lorong kampus dengan setelan hijau dan helm ungu. Perpaduan yang nggak banget buat kondisi normal, pemandangan ini bener-bener nggak oke. Tapi ngga semua kata orang harus gw ikutin kan?

Pake helm buat jalan di dalam kampus dan sepanjang jalan pulang emang ngga wajar dan bikin banyak orang ngeliatin, tapi kalo gw sakit, emang mereka yang ngeliatin ikut ngerasain?
...
Enggak toh?

Dalam banyak hal, berlaku aturan yang sama. Manusia punya hati untuk menimbang pilihan, dipadukan sama logika. Voila!

Kalau mendengar semua omongan orang, mungkin gw langsung balik kanan dari jalan hijrah pertama yang gw pilih untuk berkerudung lebar. Hidup itu penuh pilihan. Orang lain boleh ngasih saran, tapi keputusan untuk memilih tetap ada di kita masing-masing.

Dua minggu belakangan ini gw jadi fasilitator anak-anak asrama 2013 untuk training softskill Self Awareness, termasuk di dalamnya tes kepribadian. Dan dari sana, gw baru paham bahwa untuk sebagian orang dengan tipe kepribadian tertentu, untuk bilang enggak itu sulit luar biasa. Mungkin lebih sulit daripada ngerjain integral lipat tiga atau merumuskan aksioma-aksioma. Alhamdulillahnya, gw ngga pernah kesulitan untuk berkata enggak. The point is, every big things starts from a single and simple decision, yang bisa jadi itu adalah kata orang yang kita abaikan. Inget kan cerita musafir yang dalam perjalanan jauh bersama seorang anaknya dan seekor unta? Awalnya dia menuntun unta yang dinaiki anaknya, ada orang komentar. Dia ganti, dia naik unta dan anaknya jalan, ada orang komentar. Ganti lagi, mereka berdua naik unta, ada lagi yang komentar. Lalu dua-duanya turun dan untanya pun jalan tanpa ditunggangi, masih ada yang komentar juga. See? 

Manusia diberi akal untuk memilih, dan diberi telinga untuk mendengarkan omongan orang. Tapi kita berhak kok menentukan mana yang pantas didengar dan mana yang pantas dilewatkan. Kadang memang cuek itu keharusan. Sesederhana pake helm ungu di saat hujan untuk berjalan di koridor kampus dan sepanjang jalan pulang. Aneh memang, ah tapi sebanding kan dengan reward kepala terlindung?

4 comments:

  1. Akhirnya inget ya ma apa yg mau ditulis. Hehe

    ReplyDelete
  2. sama kayak ketika hujan dan nebeng di motor orang. Daripada basah, mending ngembayanin payung toh, walau badan tetap kena hujan, tapi yg penting kepala terlindungi :D

    ReplyDelete
  3. kalau hujang semua bakal mikir diri sendiri... mana payung mana payung, mana daun pisang mana daun pisang, mana tas mana tas, mana plastik :lol:

    ReplyDelete
  4. Udah lumayan lama gak mampir kesini...
    Sekalinya mampir...
    Nemuin rahma pake helm ungu.. hehehe...
    Btw, nice posting Rahma...
    Inspiring nih :)

    ReplyDelete

Drop your thoughts here, yea feel free!