Sorry, Gue Unfol

Unfollow twitter, agaknya belakangan ini satu tombol itu jadi lumayan keramat sejak ada banyak aplikasi buat ngecek siapa yang ngefollow dan siapa yang ngeunfollow kita. Sejak pertama bikin twitter, frame gw adalah orang-orang yang punya daya tarik tersendiri. Fine, bisa dari tweetnya atau dari orangnya secara personal. Eaa. 
On twitter, follow your interests, not your friend.
I do believe. Gw berhak kan memilih apa aja yang mau gw baca? Gw berhak kan menentukan konten kaya apa aja yang boleh muncul di timeline gw? Dan, terakhir, gw berhak kan memilih siapa yang mau gw follow?

To be honest, gw pribadi agak risih dengan ketauannya siapa yang gw unfol (yang orang-orang dapet notifikasinya lewat aplikasi third party itu), makin ngga nyaman kalo orang yang bersangkutan kemudian ngemention gw dan bilang “Mak kok lu unfol gw sih :(“ well what do i supposed to do? Then yaa, karena berbagai alasan gw akan memfollow lagi orang itu. Khkhkh.

Sepele ya urusan twitter doang. Eits, tapi di jaman yang udah serba digital ini, netizen dan twitter punya pengaruh besar dalam berbagai hal. Pengguliran berita yang sangat real time, penggiringan opini, customer care, media beriklan yang efektif,  sampe tweetwar ngga penting yang susah gw pahami antara Farhat Abbas sama Al. Oh sigh. 

To follow or not to follow is a choice. Ketika gw memfollow sebuah akun, ada informasi yang pengen gw dapet. Entah itu kabar si pemilik akun karena kami adalah teman baik, atau ada info-info yang menurut gw menarik. Ketertarikan itu bisa karena faktor pemilik akunnya, atau isi tweetnya, atau bisa dua-duanya. Dan ketika gw jengah dengan tweet yang flooding dari akun tertentu, gw bisa jadi memilih buat unfol. It’s not a big deal, huh? 
Flooding bisa karena si pemilik akun ngereply dengan cara retweet with comment sehingga percakapan yang hanya bisa dibaca oleh mereka yang follow kedua akun yang lagi reply-replyan jadi kebaca seantero TL. Atau bisa karena gw merasa ngga lagi dapet manfaat dari akun yang gw follow, biasanya ini karena gw berekspektasi lumayan tinggi. Kalau apa yang gw baca justru bikin pikiran gw rusak, ngapain gw terusin baca, ya kan? Misalnya adalah follow akun yang kerjaannya bergunjing mulu. Aw no! Salah satu usaha menjaga kebersihan hati adalah dengan menjaga kebersihan bacaan.

You are who your friends are. You are what you read. I can’t tell that who you follow affects the way you think that much, but they do affect what kind of information that you get. In the end, source of information and what kind of information that you have can really make up the way you think.

Memfilter bacaan itu seperti menyeleksi makanan. Ada yang bergizi, ada yang tidak. Ada yang bermanfaat, ada yang merusak. Gw berhak toh memilih makanan apa yang mau gw makan? Persis. Gw punya hak yang sama untuk memilih siapa yang gw follow.

2 comments:

  1. Agree! The owner has his right to follow or not to follow other accounts. Dan kadang "terpaksa" follow ketika mention itu datang "Folbek yah!" :P
    Anyway, salah satu alasan saya ga menggunakan third party adalah ketika ada yg unfollow saya, saya ga perlu tau hal tsb demi menjaga hubungan yg positive. Karena pada dasarnya followers have their own right to follow or not to follow me as well :D

    ReplyDelete
  2. setuju..disaat socmed terlalu menawarkan keterbukaan (semisal FB) maka twitter merupakan "pelarian" buat pemenuhan kebutuhan diri akan hak privasi... tapi repotnya yang menyamakan twitter dengan FB yang parameternya banyak2an jumlah follower...
    akibatnya secara kuantitas follower banyak, secara kuantitas ga banget..ujung2nya jadi nyampah di TL...kalo saya unfol seseorang terus ybs ga suka dan nge unfol balik..ya monggo ae..artinya saya ga interest sama tulisan dia, dia ga respek sama tulisan saya..:)

    ReplyDelete

Drop your thoughts here, yea feel free!