Menertawai Bencana

Tertawalah, sampai hal buruk itu lelah mengikutimu.

Quote itu gw dapet tahun 2010, saat gw harus mengikhlaskan tas gw yang hilang, lengkap seisinya. Kejadiannya tepat ketika gw batizado, Maret 2010 di PVJ. Semua tas diletakkan di satu tempat dan semua capoerista sibuk nonton, nyanyi dan nyiapin diri nunggu gilirannya. Tahu-tahu tas gw udah ngga ada. Hilang begitu saja, kaya tulisan di whiteboard yang dihapus pake penghapus busa. Yang tersisa hanya satu set seragam capoeria yang nempel di badan, dan sandal yang untungnya ngga ikut diambil. Kesel? Pasti lah! Sedih, bingung, takut dimarahin orangtua, marah, semuanya campur jadi satu kaya sayuran di piring pecel. Tapi saat itu gw punya dua pilihan, terus-menerus campur aduk kaya pecel, atau mengikhlaskan dan menertawakan kejadian itu.

Gw memilih yang kedua. Rasanya setelah mengikhlaskan itu.....plong. Ngga ada lagi kesel, marah, gondok dan apapun itu. Saat itu gw justru merasa kejadian itu lucu, bisa diceritain di blog. Eh serius, entah apa yang salah sama gw karena waktu itu dalam perjalanan pulang dari PVJ, gw berpikir "Wah ini cerita keren buat ditulis di blog." Iya, salah fokus banget emang, soalnya waktu itu lagi doyan-doyannya blogging.

Menertawakan adalah langkah selanjutnya. Ketika gw udah bisa menertawakan sesuatu yang harusnya gw anggap hal buruk, berarti gw udah ikhlas. Try it! Karena tindak lanjut dari ikhlas adalah tidak mengeluh. Jadi kalo udah ikhlas ya harusnya ngga ngeluh-ngeluh lagi dong :p

Indonesia sedang diuji bertubi-tubi. Sinabung belum tuntas, Kelud menyusul. Banyak pelajaran yang bisa diambil, tapi banyak juga hal yang bisa dikeluhkan (kalau mau). Pilihannya cuma dua, ikhlas atau mengeluh. Hari Jumat lalu, pagi pertama setelah letusan Kelud, abu vulkanik nyampe Purworejo. SMS Bapak bunyinya justru gini:


Padahal, abunya lebih tebel dari abu Merapi. Bisa aja kan yang muncul adalah keluhan bertubi-tubi? Bapak ngga memilih opsi pertama. Back again, menertawakan hal buruk ngga segampang itu.

Menertawakan hal buruk bukan berarti ngga prihatin, tapi tanda hati udah bisa lebih ikhlas. Tertawalah, sampai hal buruk itu lelah mengikutimu.

3 comments:

  1. kalo orang lain yg menertawai gimana?

    ReplyDelete
  2. ya sama kasusnya kyk saya mbak,, waktu kehilangan HP.. Temen2 saya malah pada bingung & nanya "lu kok ngga panik, malah nyantai2 aja.." hahaha..

    ReplyDelete
  3. "Menertawai Bencana" disini sangat amat berbeda dengan acara-acara di televisi yang penuh dengan tawa di tengah bencana 'kan ya kak? :D

    ReplyDelete

Drop your thoughts here, yea feel free!