Aduh, Tuan

Selamat malam, Tuan. 
Saya tahu golongan rakyat Tuan ada dua, dulu. Laki-laki dan perempuan. Mudah sekali membedakan keduanya dulu, karena jelas sekali penampilannya sangat kontras berbeda. Tuan pasti tahu itu.

Sekarang sudah modern, kerabat yang jauh bisa diajak bicara lewat kotak kecil yang ditempel di telinga. Momen bisa diabadikan hanya dalam sekali sentuh pada kotak-kotak ajaib itu. Senyum putri Tuan pun bisa saya abadikan dalam kotak ajaib milik saya. Oh ini ternyata yang namanya teknologi.

Tapi Tuan, golongan rakyat Tuan agaknya bertambah sekarang. Perempuan-perempuan yang dahulu pakaiannya enak dipandang sekarang makin enak dipandang. Wajarlah Tuan, saya laki-laki, otak saya memberi perintah untuk menunduk tapi mata saya seringkali bekerja di luar kendali. Di padepokan tempat saya belajar, perempuan rakyat Tuan dengan bangga memperlihatkan kakinya yang jenjang, tapi Tuan, sungguh, tak semuanya jenjang, banyak juga yang sesungguhnya tak enak dipandang. Saya mulai tak mengenali mereka, rakyat Tuan yang dulu memakai kain panjang yang rapat sekarang beralih haluan.

Bukan itu saja Tuan, saya pun ingin bertanya, apakah tukang kain di negeri ini semakin kesulitan membuat bahan? Karena kain persegi yang menutup rambut rakyat Tuan pun mulai ditanggalkan. Sesungguhnya malu saya Tuan. Seandainya saya menjadi suami salah seorang dari mereka, atau suami dari putri Tuan, tentulah saya tidak ingin memperlihatkan mahkota istri saya pada khalayak. Apa yang mereka banggakan dengan membuka-buka seperti itu?

Ada lagi yang harus saya laporkan Tuan. Perempuan-perempuan rakyat Tuan ini dahulu terkenal cantiknya, tapi sekarang saya harus berkerut kening untuk mencerna kecantikan mereka. Mereka tidak lagi memiliki alis, Tuan. Sungguh seram. Pipi mereka pun menjadi kemerah-merahan, entah obat apa yang mereka kenakan.

Mereka seperti lupa bahwa mereka dicipta dengan sempurna. Tuan setuju dengan saya? Mereka lupa bahwa bukan mereka yang mengerti standar sempurna, karena mereka dicipta bukan mencipta. Siapa yang paling paham soal arti kesempurnaan kalau bukan Yang Mencipta? Untuk apa mengubah sesuatu yang sudah sempurna, alis misalnya. Aduhai Tuan, sungguh saya tidak habis pikir dengan sebagian besar rakyat Tuan.

Karena Mamak saya mengajarkan, keindahan ada pada kesederhanaan. Mamak ingin punya menantu yang punya alis, seperti putri Tuan. Memiliki pipi yang tidak diberi obat merah-merah, dan bibir yang cantik bukan karena diberi gincu. Mamak ingin punya anak perempuan yang cantik karena perkataan lembutnya, karena sering mengucap nama Penciptanya. Mamak pun ingin anak laki-lakinya ini didampingi oleh perempuan yang tahu cara menghargai dirinya sendiri dengan tidak menjual murah harga dirinya. Kata Mamak, harga diri perempuan salah satunya terpancar dari caranya berpakaian. Jelas, yang kainnya di atas lutut bukan menantu idaman Mamak.

Benar kan Tuan, rakyat Tuan sudah sulit dikenali. Identitas negeri kita yang luhur mulai luntur, tergantikan oleh identitas pendatang-pendatang. Saya ingin mencari yang tahu caranya menghargai dirinya sendiri, menghargai identitasnya, menghargai pendampingnya. Dan saya merasa putri Tuan memiliki semua kualitas unggulan yang terbaik, lebih dari yang saya butuhkan. Jadi Tuan, kapan kita bisa berbicara lebih rinci mengenai ini?

4 comments:

  1. "kapan kita bisa berbicara lebih rinci mengenai ini?" XD

    ReplyDelete
  2. Replies
    1. waaa nanda makasiih :)))
      *senyum lebar

      Delete

Drop your thoughts here, yea feel free!