Jangan Cintai Aku Apa Adanya

Nggak bisa dipungkiri, tinggal bersama seseorang akan membuat lo terpengaruh, sedikit atau banyak, sekarang atau nanti.

Udah sejak Juli 2013 lalu gw ngga ngekos sendiri. Adalah Tari, orang yang baru gw kenal pada Maret 2013, yang kemudian empat bulan kemudian tinggal dalam petak kamar kosan yang sama. Orang bilang, tinggal sendiri itu lebih enak daripada tinggal sama orang asing. Nyatanya, punya roommate jauh lebih menyenangkan. Ada yang bisa dibagi, ada yang bisa dijadiin tempat cerita, ada yang bisa diajakin curhat sambil matiin lampu menjelang tidur, ada yang bisa diajak pinjem-pinjeman kerudung, ada yang bisa diajakin bebersih kosan bareng, ada yang bisa diajak pergi makan bareng hampir tiap hari, ada yang bisa diajak berbagi makanan, ada yang bisa diajak ngobrol ketika sepi dan masalah melanda. Mungkin udah kelamaan ngekos sendirian ya makanya pas dapet roommate lagi (setelah ngekos SMA) rasanya seneeeeng banget.

"Si Rahma lagunyaaaa....jadul banget si.", komentar Tari hampir tiap denger gw muter mp3. Apa daya, umur boleh muda, selera lagu tetep tua. Duh.

Gimana ngga dikomentarin gitu kalo lagu yang gw puter bisa lagunya Billy Joel atau Stevie Wonder atau Whitney Huston jaman Bapak dan Ibuk belum saling kenal, atau lagu tahun 90 sampe 2000an awal. Tapi begitulah, tinggal bersama, ngga mungkin gw ngga terpengaruh apa-apa dari Tari. Lagu salah satunya.

Tak sulit mendapatkan mu
Karena sejak lama kau pun mengincarku
Tak perlu lama-lama
Tak perlu banyak tenaga
Ini terasa mudah
Kau terima semua kurangku
Kau tak pernah marah bila ku salah
Kau selalu memuji apapun hasil tanganku
Yang tidak jarang payah

Jangan cintai aku
Apa adanya
Jangan
Tuntutlah sesuatu
Biar kita jalan ke depan

Ya, seringkali terjadi memang, mencintai (terlalu) apa adanya sehingga tak ada resolusi menuju sesuatu yang lebih baik. Padahal, dengan cinta kekuatan satu ditambah satu tak hanya menjadi dua melainkan bisa menjadi delapan atau tigabelas. Padahal, dengan cinta letih berjuang bisa cepat tergantikan dengan semangat baru. Padahal, dengan cinta resolusi dan mimpi-mimpi tak hanya diperjuangkan seorang diri. 

Jangan mau menjadi biasa saja, kalau memang cinta. Katanya cinta, tapi mau ketemu aja nanti-nanti mulu (nah nunduk deh inget shalatnya suka nanti-nanti). Katanya cinta, tapi disuruh ngerjain sesuatu aja alesan mulu (nunduk lagi, inget debat sama orangtua pas disuruh pake jilbab dulu). Katanya cinta, tapi dites cintanya dengan ujian udah ngeluh dimana-mana. Katanya cinta, tapi nyebut namaNya aja kalo pas inget aja. Katanya cinta, tapi rela mencintai dengan sangat apa adanya, ngga mau berlomba-lomba dalam mencapatkan cintaNya juga. Fastabiqul khairat! Yuk ah berlomba dalam kebaikan.

Ah iya, jangan cintai aku apa adanya. Mari berupaya bersama untuk masa depan yang lebih baik :)
*ngomong sama laptop*

No comments:

Post a Comment

Drop your thoughts here, yea feel free!