Mendewasa

Hi there! Apa kabar di sana? Wishing you in a good mood and health and all J

Pulang kampung selalu membawa cerita sendiri. 2014 ini adalah mudik lebaran keenam sejak memutuskan buat kuliah di Bandung. Dan kayanya untuk beberapa tahun ke depan pun asal mudiknya masih sama, dari Bandung. Mudik kali ini adalah mudik dengan KTP yang kalo dihitung mundur udah menunjukkan angka 22. Well, 23 kurang 2 bulan masih terhitung 22 kan? :p

Siang tadi gw ngebukain album lawas. Ada foto KKN bapak, wisuda bapak, wisuda ibuk, nikahan bapak ibuk, dan tentu saja album favorit adalah album yang isinya kumpulan foto-foto kecil gw dulu. And it feels like WOW! Bocah tanpa leher (saking gendutnya) udah tumbuh segede ini *ngaca*

Yang paling berasa banget bedanya dari mudik beberapa tahun sebelumnya adalah perlakuan orang tua. Gw lupa haditsnya, tapi kurang lebih intinya adalah perlakukan anakmu seperti raja sampai ia berumur 7 tahun, lalu 7 tahun kedua which is umur 7 – 14 seperti tawanan perang, dan seterusnya perlakukan ia seperti sahabat. Berada di rumah selalu sukses bikin keinget nakal-nakalnya jaman dulu. Disuruh apapun jawabannya cuma satu “Nggih, sik.” (Iya nanti dulu) yang ujung-ujungnya kena omel hampir tiap hari. Disuruh nyapu, nanti. Disuruh ngambilin gunting, nanti. Disuruh nyuci piring, nanti. Disuruh shalat, nanti. Giliran disuruh makan, langsung. Duh!


Di umur segini, udah bukan jamannya lagi sak-sik-sak-sik alias iya nanti-iya nanti. Umur segini udah seharusnya ngerjain kerjaan orangtua tanpa harus diminta. Sebelum mudik kemaren, di liqo dibahas tentang kewajiban anak dan orangtua. Di sana disebut kalo oleh-oleh terbaik buat mudik nanti bukanlah makanan berkantong-kantong melainkan bakti anak. Dan berasa banget juga, di umur segini, perlakuan orangtua beda dibanding beberapa tahun lalu. Bahan obrolannya, tingkat trustnya, dan ngga jarang kita udah dilibatin buat banyak urusan serius. Mahabesar Allah yang mengijinkan kita tumbuh, ngga cuma membesar tapi juga mendewasa.

Rabbighfirli waliwaalidayya warhamhuma kamaa rabbayyani shoghiiro. Ya Allah ampunilah aku dan kedua orangtuaku serta sayangilah mereka seperti mereka menyayangiku waktu kecil.

Yak, tunggu apa lagi. Ramadhan salah satu momentum paling pas buat memulai kebaikan, ngga perlulah menunggu nanti. Selamat menunjukkan bakti terbaik buat orang tua! J

No comments:

Post a Comment

Drop your thoughts here, yea feel free!