RSPQ

Dari Abu Hurairah, dia mendengar Rasulullah bersabda ”Apabila anak Adam meninggal dunia maka terputuslah amalnya kecuali dari tiga hal (yaitu) sedekah jariyah, ilmu yang diamalkan (diajarkan) dan anak soleh yang mendoakannya.” (H.R. Muslim)

Mengajar berarti berbagi. Pepatah Barat bilang, happiness is only real when shared. Pepatah Purworejo bilang, knowledge is only real when shared atau dalam bahasa asli berbunyi sejatine ngelmu kasunyatan yen dibagi.

Sejak November tahun lalu, melalui reply iseng di twitter dilanjutkan dengan obrolan personal antara gw, Jamil dan Alfi yang dua-duanya adalah rekan SC PDKT 2012, gw ditawarin ikut ngajar di RSPQ (Rumah Singgah Pecinta Qur’an). Ngajar apa aja bebas katanya. Waktunya bebas sebisa gw katanya. Tinggal nyesuain karena RSPQ biasanya ada ngaji bada maghrib dilanjut belajar bareng kakak-kakak yang dateng. 

Gw terus mikir, mau ngajar matematika eh ngga jago-jago amat. Plus musti ada pemisahan berdasarkan kelas. Mau ngajar IPA, musti baca lagi. Mau ngajar ngaji, udah banyak yang lebih jago. Akhirnya gw memutuskan ngajar bahasa Inggris.

I will make it fun. Ngga ada pemisahan kelas, dan bakal banyak nyanyi-nyanyi. Gw pengin anak-anak ini berani speak up, ngga cuma fasih berbahasa Sunda aja. Gw pengin mereka berani melihat dunia. Gw pengin anak-anak dari pinggiran Bandung ini ngga kalah sama anak-anak kota Bandung yang punya fasilitas lebih mencukupi. Gw pengen mereka ngerasain enaknya belajar bahasa Inggris kaya yang gw rasain waktu gw seumuran itu. Gw pengen berbagi apa yang gw bisa, sedikit mungkin, tapi minimal gw mencoba.

Anak-anak di RSPQ manis-maniiiiiss banget. Rata-rata mereka adalah anaknya warga sekitar Sukabirus, kampung yang mepet kampus tapi bertolak belakang banget sama kondisi mahasiswa. Dari sisi ekonomi, kelihatan banget njomplangnya. Dan yang gw denger dari bu Ntin, salah satu warga yang peduli dan ikutan ngurus RSPQ, ada orang tua murid yang bilang “Udah, ngapain belajar rajin-rajin, abis lulus nanti mendingan bantu bapak mulung sampah.” Sediih. Cita-cita anak-anak dipatahkan oleh orangtuanya sendiri, sementara di luar sana orangtua lain sibuk memupuk harapan dan cita-cita anaknya.

Hari pertama ngajar, antusiasme anak-anak luar biasa dahsyatnya. Mereka malu-malu tapi mereka mau, tergambar dari mereka yang diam-diam membaca tanpa suara apa yang gw tulis di papan. Awalnya, membaca nyaring cuma 2-4 orang yang mau, yang lain malu-malu, tapi Alhamdulillah lewat lagu, mereka jadi berani mengucap kata demi kata dengan nyaring. Gw emang ngga melakukan pemisahan kelas, semua jadi satu mulai yang belum sekolah sampe yang SMP kelas 1. Treatment per anak yang gw bedakan.

Diawali dengan nanya “Hi, what’s your name?” yang musti dijawab dengan “My name is…….” oleh setiap anak, rasa percaya diri anak-anak pinggiran ini gw pupuk. Awalnya, buat ngomong my name is aja mereka ngga mau, ngga pede, dan banyak yang salah pengucapan. But that’s alright since it’s a good start that they already willing to speak up. Skill speaking gw asah lewat lagu. Ajaibnya, anak-anak ini cepet banget mencerna gimana ngucap kata demi kata di lagu yang mereka hapal di luar kepala. Setiap menguasai lagu baru, gw ajak mereka tahu arti per kata dan cara ngucap yang benernya.  Setelah itu mereka musti spelling per huruf. Percaya deh, sekesel-sekelnya lo karena keberisikan mereka selama jam belajar, terobati seketika pas mereka bisa ngucap dengan bener dan spell hurufnya dengan bener. Pernah mereka gw kasih puzzle season yang harus mereka susun, setelah itu kami ngebahas tentang season di Negara-negara empat musim. Beberapa kali gw bikin role play dimana mereka harus berdialog sama pasangannya dengan teks dialog yang gw tentukan. Gw akan muter ngecek satu per satu, dan ini udah cukup bikin mereka grogi :p Beberapa kali juga gw bikin teks bacaan sederhana di papan tulis untuk dibaca bareng-bareng. Gw kasih list vocab yang harus mereka hafal untuk kemudian gw tes listening dan writingnya lewat narasi dengan vocab tertentu yang musti mereka tulis setiap kali gw ngomong dalam cerita itu.

Misalnya gw lagi ngebahas family member, di papan tulis bakal gw tulisin semua vocab family member beserta artinya. Lalu gw akan mendongeng, dan anak-anak harus mencatat setiap kata yang berisi family member yang gw ucapkan. Hasilnya? Amazing! Mereka bisa nangkep dengan sangat baik, rata-rata bener semua atau salah dua.

Bagian paling challenging buat gw adalah ngasih lagu baru tiap pertemuannya karena itu yang bikin mereka semangat dan berani speak up. Gw kehabisan stok lagu saat Twinkle-Twinkle, Brother John, Old McDonnald, Ten Little Indian, If You Happy and You Know It , Que Sera Sera, My Bonnie dan semua lagi yang gw kasih udah mereka hafal. Akhirnya gw sampe ngasih We Shall Overcome kaya yang di My Name Is Khan _-_ serta nyeritain sejarahnya lagu itu, gw tambah beberapa bait buat Old McDonnald dan My Bonnie, gw ajarin yel-yel energizing G.O.O.D J.O.B., dan di pertemuan terakhir, karena mereka minta terus lagu baru, gw kasih deh tuh Open Banana sama gerakannya juga. Cem icebreaking workshop aja ya :3

Buat menjaga supaya mereka ngga berguguran tiap pekannya, gw menerapkan sistem tanda tangan di tiap akhir pertemuan, dan buat mereka yang udah punya 10 ttd bakal dapet hadiah dari gw. Hadiahnya cuma penghapus dan pulpen lucu-lucu, tapi rupanya itu udah lebih dari cukup untuk ngebikin mereka rajin dateng dua kali seminggu buat belajar bahasa Inggris.

Selain bahasa Inggris, anak-anak RSPQ juga belajar matematika, ngaji, IPA dan lain-lainnya. Yang ngajar ya mereka yang mau. Ini bukan soal mampu atau nggak mampu kok, tapi mau atau nggak mau. Memilih menutup mata atau mengakui kalau kita punya sesuatu untuk berkontribusi.

Dan akhirnya saat perpisahan itu tiba. Sediiih rasanya, apa daya karena gw pindah kosan dan jadwal belajar bareng di RSPQ itu bada maghrib sampe jam 20.00 ya gw memutuskan untuk pamit. Nyenengin banget ada di antara anak-anak ini. Seneng yang berlipat juga terasa pas ketemu di jalan dan mereka manggil atau bahkan mendekat buat salim. Lebih bahagia lagi saat ngeliat mereka di jalan nyanyi-nyanyi lagu yang pernah gw ajarin. Anak ter’bandel’ pun ternyata bisa ngikutin, dan bahkan sambil nunggu, sementara yang lain pada ngobrol, dia nyanyi-nyanyi lagu-lagu berbahasa Inggris itu. Moment of joy~

Tentu saja selama ini gw ngga sendirian (walaupun seringnya sendiri) pas ngajar. Tapi didaulat sebagai pengajar utama emang jadi amanah tersendiri. Dan sekarang, setelah gw pamitan, anak-anak RSPQ ini butuh sosok kakak pengajar bahasa Inggris baru yang lebih keren. Lo mungkin orang yang mereka butuhkan, jadi kalo berminat feel free to text me or just mention on my twitter.


Dan bukankah ketika anak-anak ini nanti tumbuh besar dan mereka memanfaatkan ilmu yang didapet dari RSPQ, kita tak akan luput dari pencatatan malaikat atas ilmu yang bermanfaat? Bukankah jika dari cerita-cerita bijak yang kita ceritakan mereka bisa mengambil hikmah dan menerapkannya, amalan kita akan bertambah? Allah Maha Melihat. Berbagi tak harus menunggu nanti. Yuk berkontribusi! J


1 comment:

  1. terimakasih Kakaaaaa sudah berkenan berbagi dengan RSPQ.. Semoga tiap ilmu yang disampaikan jadi amal jariyah yang tiada putusnya..

    ReplyDelete

Drop your thoughts here, yea feel free!