#MemilihLupa: What If...

sumber: Tumblr 
Pernah ngga terlintas pulang kerja atau kuliah, ketika naik motor, di persimpangan tiba-tiba lo ketabrak motor lain.

Atau dalam perjalanan berangkat ke sekolah, ketika lo menyeberang tiba-tiba ada angkot yang ngebut dan lo ketabrak.

Atau siang-siang di kamar mandi untuk berniat pipis, lo kepleset sampe pingsan.

Atau di dalam selimut yang hangat itu, lo mengucapkan selamat tidur di twitter dan ternyata paginya lo ngga bangun dan tweet selamat malam tadi adalah tweet terakhir lo.

Gw tahu, permisalan di atas bukan hal yang indah untuk dibayangin. Jelas berbeda dengan bayangan lo akan bertemu dengan pangeran berkuda putih (ya jaman sekarang sih ngga pake kuda juga), menikah, punya anak, lulus kuliah, menang lomba, jalan-jalan ke tempat yang belom pernah lo kunjungin, diving, daaann sebagainya. Jelas beda. Kebanyakan dari kita memilih buat menghindari bayangan-bayangan yang ngga indah tadi, yang bisa jadi salah satu sebabnya adalah karena kita ingin menghindar. Kita tahu kok that day will come sooner or later, tapi kita sering memilih untuk lupa. Berkebalikan banget sama hashtag yang digembar-gemborin aktivis-aktivis yaitu #MenolakLupa, dalam hal ini banyak dari kita yang justru #MemilihLupa.

Atas alasan di atas itulah gw ngga pernah ngunci pintu kamar kosan kalo malem. Apa jadinya kalo ternyata gw tidur, mengucap selamat malam ke orang-orang terdekat dan ternyata itu adalah ucapan terakhir gw. Pintu kamar gw kekunci sehingga temen kosan gw ngga akan segera menyadari apa yang terjadi sama gw. That scary.

Emang bener ya apa kata pepatah yang banyak dijadiin quote di tumblr atau instagram atau status orang-orang, bahwa yang kita lihat dan dengar bukan apa yang ada di sekeliling kita melainkan hanya apa yang ingin kita lihat dan dengar. Betapapun dikasihtau the whole story, kalo kita cuman mau percaya 40%nya ya hanya itulah yang bakal kita denger.

Seberapapun kita banyak baca dan denger tentang kehidupan setelah mati, bahwa hidup di dunia ini cuman persinggahan, bahwa kita punya satu kampung halaman yang sama-sama ingin kita tuju dengan lancar dan selamat yaitu surga, bahwa maksiat itu dosa, tapi tetep aja kalau kita hanya pengin melihat sebagian, ya sebagian itu doang yang bakal tertancap di otak. Misalnya “Iya gw yakin kok kalo ada kehidupan setelah mati dan bahwa dunia ini cuma persinggahan menuju surga.”, tapi mengabaikan bagian “Melakukan maksiat akan berbuah dosa yang bisa membuat Allah murka lalu bisa jadi kita ngga dikasih kesempatan ke surga.” Pemahaman parsial hanya pada bagian yang ingin kita percaya.

Atau percaya bahwa memperbanyak amal bisa menjadikan sebab Allah ridho, lalu kita disayang Allah lalu kita boleh masuk surga tapi memilih lupa bahwa memperbanyak dzikir adalah salah satu cara mengingatNya, salah satu amal baik yang bisa jadi adalah salah satu sebab Allah ridho.

Anyway, kalau dzikiran sehabis shalat belum bisa dibiasakan, coba deh pas naik kendaraan sambil dzikiran. Lumayan kan setengah jam, bayangpun berapa kali namaNya kita sebut. Lalu bayangkan kalo misalnya tiba-tiba di jalan kita ketabrak, kalimat apa yang terakhir kita ucap?


Bukan bermaksud bikin parno, gw nulis begini adalah salah satu cara menampar diri sendiri. Berani-beraninya bertahan dalam futur, kondisi lemah iman, kalo inget mati bisa dateng kapan aja memutus semua nikmat dunia. Berani-beraninya menggunjingkan orang, karena bisa aja gunjingan itu adalah kalimat terakhir kita. Berani-beraninya nyepelein ibadah sunnah, padahal di umur segini harusnya pengertian sunnah adalah kesempatan emas dari Allah buat menambah catatan amal baik, meninggalkannya bukan berarti tidak akan mendapat dosa melainkan berarti kita menyia-nyiakan kesempatan emas itu.

Ngeri uy kemaren liat di akun berita di twitter, udah lupa apa akunnya, tapi inti beritanya adalah seorang pemuda tanpa identitas ditemukan meninggal di warnet saat menonton film porno. Naudzubillahi.

Semoga dengan seenggaknya pernah ngebayangin hal di atas, sekaliii aja, bikin kita lebih hati-hati dalam bersikap, berkata dan berniat. Allah Maha Melihat, dan ngga ada satu jengkal pun tempat yang luput dari pengawasanNya.

p.s. kosan gw ada di lantai 2, di sebuah rumah yang dihuni oleh keluarga bapak kos di lantai 1.

2 comments:

  1. ah! postingannya pas banget loh mba rahma. entah kenapa minggu ini Allah sdg membanyangi saya dgn banyangan kematian. dr yg namanya hampir kecelakaan sampai bener2 kecelakaan ada semua,.takut? semoga bayangan kematian ini bukan menjadi ketakutan,namun jd doping buat berani menjemput kematian yg senyum. makasih buat tamparannya,mba :)

    ReplyDelete

Drop your thoughts here, yea feel free!