Bersediakah Kau Menikahimu?

Oke mungkin ada yang wondering, bener ngga sih judul yang baru aja lo baca. Atau bertanya-tanya apakah gw typo. Do you?

Actually it's not typo, I mean it. Beberapa waktu lalu, pas gw bersih-bersih facebook (iya, bukan rumah doang yang perlu dibersihin, sosmed juga), gw nemu notes tanggal 12 Juli 2009 dengan judul yang sama persis. Berikut potongan tulisan gw:

Lalu muncul pertanyaan dalam diri saya "Seandainya saya bertemu orang seperti saya saat ini (dengan karakter, sifat, kelebihan dan kekurangan saya saat ini), bersediakah saya menikah dengannya?"

Penekanannya adalah saya saat ini, bukan karakter yang ingin saya punya di masa depan. Dan jujur, lubuk hati saya yang terdalam menjawab 'mungkin', bukan 'tentu'. Karena itu saya berpikir lagi bagaimana mengubah mungkin menjadi tentu. Pertanyaan awal tadi sama maksudnya dengan 'Maukah kau mempercayaimu?' atau 'Maukah kau menjadi teman baikmu?' atau 'Maukah kau bekerjasama denganmu?' dan semua pertanyaan tersebut menyadarkan saya bahwa saya hanyalah manusia biasa. 

Actually gw bahkan udah lupa pernah nulis semacem itu, walaupun begitu baca lagi gw langsung inget buku apa yang jadi inspirasinya. Mau tau? :p Judulnya Satu Tiket ke Surga, tulisannya Zabrina A. Bakar, penulis Malaysia.

Oh well silakan mengakui dalam hati masing-masing kalo kita sering ngerasa "udah baik" dan ngga jarang juga kita bangga, kagum sama diri sendiri. Tapi coba diinget juga, kita adalah sepaket manusia komplit sama kurang dan lebihnya. Gw adalah Rahma Djati Kusuma, anak kampung yang sekarang lagi berusaha catching her dreams, sepaket komplit sama kekurangan dan kelebihannya. Lalu apa? Gw pasrah aja nerima kenyataan bahwa gw punya buanyak kekurangan lalu bikin excuse "ah semua orang pun punya kekurangannya masing-masing kok"? NO WAY! Allah aja ngga akan ngubah keadaan suatu kaum kalo mereka ngga berusaha sendiri. Maka justru karena tahu itu, gw harus ada usaha lebih buat berubah, pelan-pelan nggapapa toh asal berprogres? 


Berubah sekarang, karena gw ngga mau ketika gw udah tua nanti, gw punya masa lalu yang mengecewakan. Gw harus berubah jadi lebih baik atau gw akan menyesal. Gw harus olahraga lebih rajin atau gw akan menyesal karena punya badan dung dung dung pas tua nanti :3

Dian Sastro aja bilang kalo waktu tidak dapat berjalan mundur, tapi pagi selalu menawarkan cerita yang baru. Udah tahu waktu ngga bisa berjalan mundur, ya jangan mau cuma merangkak dong. Lari! Kalaupun perubahan yang kita pengen belom tercapai, amalan dan niat baik itu ngga pernah luput kok kecatetnya. Sebesar zarrah sekalipun akan kecatet. Malaikat itu ngga teledor dalam mencatat, yang suka keteter nyatet itu namanya mahasiswa.

And yesss.. berubah jadi lebih baik, sampe pertanyaan-pertanyaan tadi bisa gw jawab dengan mantap "TENTU!" bukan lagi "Mungkin".

2 comments:

Drop your thoughts here, yea feel free!