Ekspektasi

Kosan Aki Agus, 10 hari sebelum janji suci terucap.
Disclaimer: Tulisan ini dibuat sama sekali bukan karena ada ekspektasi gw yang ngga terpenuhi, melainkan hasil dari merenung dan berpikir di saat sepi (aha, you got me! Bagus ya rima kalimatnya hahaha)


Lo tahu apa satu dari banyak hal tersulit selama kita hidup?
Me-manage ekspektasi.

Kita berekspektasi orang lain sesuai apa yang kita ingin, sampai kadang lupa sama kemampuan orang lain tersebut.

Kita berekspektasi diperlakukan kaya di film-film India, nyatanya malah kaya sinetron RCTI.

Kita berekspektasi mendapat lebih, hingga lupa orang yang kita beri beban berat bernama ekspektasi hanya bisa memberi setengahnya.

Lalu kita kecewa dengan kekecewaan yang muncul bukan karena perlakuan orang lain melainkan karena kita gagal mengelola ekspektasi kita sendiri. Bahaya.

By the way yeeeessss I’m getting married in 10 days! Dan dalam proses menjelang hari yang kami perjuangkan ini, gw banyak berpikir, terutama makin deket-deket hari-H. Karena nantinya hidup gw akan berubah total. Eh oke mungkin ngga total karena gw masih bakal tinggal di Bandung, kuliah dan ngekos (ha!) tapi akan ada banyak perubahan, ngga cuma fisik tapi juga batin dan mental. Salah satu hasil berpikir gw adalah tentang ekspektasi ini.

Benar bahwa menjelang pernikahan, setan akan makin gencar menggoda, melecut pertengakaran-pertengkaran sepele supaya muncul rasa ragu. Karena setan tak suka manusia mengikat perjanjian suci dengan Tuhannya. Ekspektasi kita disiram sampai tumbuh menjulang, dengan risiko terhempas jatuh dari ketinggian saat tak terpenuhi.

Katanya, setelah akad nanti, hidup kita akan penuh dengan toleransi-toleransi. Toleransi terhadap kekurangan masing-masing, dan menekan ekspektasi untuk meminimalisasi kekecewaan yang lebih sering tak bersebab, atau bersebab namun tak masuk akal.

Siapa bilang hidup sama seseorang yang tadinya dua individu terpisah bakal gampang, dan siapa bilang hidup sama gw – yang suka rempong ini – bakal  gampang. Tapi sepasang manusia yang telah terikat janji suci dengan Tuhannya, masing-masing memegang kepercayaan penuh satu sama lain. Bahwa sesuatu yang ngga gampang ini akan terus dilalui sama-sama, dengan hati yang terikat. Bukankah dua dayung akan lebih mudah untuk menyeberangi sungai daripada hanya dengan satu dayung?

Salah satu nasihat lawas Bapak yang paling jleb adalah jangan suka berandai-andai dan panjang angan, berandai-andai deket sama setan. Ini ada haditsnya deh seinget gw, silakan cari sendiri gimana haditsnya karena paket Halo gw udah turun speed drastis sejak kuotanya melebihi 2 giga.

Ya, jangan berandai-andai. Jangan membebankan ekspektasi tinggi pada orang lain, karena setinggi apa kita berani berharap, dari ketinggian itu pula kita harus siap jatuh.

No comments:

Post a Comment

Drop your thoughts here, yea feel free!