Ingatkan Suamimu untuk Bercermin by Salim A. Fillah

As I promised before, gw akan meng-copy paste tulisan ustad Salim A. Fillah dari buku Ingatlah Untuk Bercermin. Copas ini butuh effort kok, bukan tinggal blok trus copy trus paste trus post, karena copasnya dari buku sehingga butuh proses ketik ulang *meringis*

Kenapa gw mau menyalin tulisan ini? Karena gw sendiri terinspirasi pada paragraf pertamanya. Suatu hal esensial yang perlu semua orang tahu, sudah atau belum menikah. Daann...ngga susah juga buat dipraktekin asal ada niat dan ada kaca, oh atau ada kamera depan smartphone anda. 

***

Ingatkan Suamimu untuk Bercermin

Para istri, ingatkanlah suamimu untuk bercermin.

Sungguh, mula-mula ini bukan kiasan tentang bermuhasabah. Ini benar-benar soal bercermin di depan kaca dalam makna yang paling harfiah. Sebab tahukah engkau, sebelum bercermin dalam makna merenung dan membenahi akhlak, sekadar kesediaannya untuk berkaca dalam makna lahiriah pun ternyata sangat menentukan masa depan dakwah.

Begini ceritanya.

Pernah suatu ketika dilaksanakan jajak pendapat sederhana kepada anak-anak para pengemban dakwah dan pegiat agama. Hasilnya membuat dahi kami berkernyit. Sebab sebagian bocah yang diharapkan menjadi pewaris perjuangan orang tuanya itu, hampir sepertiga dari semuanya berkata, "Kalau sudah besar kami tak mau menjadi seperti abi dan ummi. Kami ingin menjadi muslim yang biasa-biasa saja."

"Mengapa?"

"Sebab mereka terlalu sibuk dalam bekerja dan kegiatan dakwahnya. Kalau pulang sudah tinggal lelahnya. Tak ada lagi waktu untuk bermain dengan kami. Tak ada lagi tenaga untuk mendampingi belajar kami."

Semoga Allah menyayangi anak-anak ini. Masih sangat kita syukuri mereka memiliki pemahaman yang baik tentang nilai-nilai keluarga. Masih sangat kita syukuri mereka tidak tumbuh dengan dendam akan kurangnya perhatian dan cinta. Mereka hanya hendak menyampaikan "Kami tidak mau kelak seperti itu. Kami ingin ada dan hadir untuk keluarga seutuhnya."

Duhai memang, betapa banyak suami dan bapak yang pulang dalam wajah tertekuk, tubuh membungkuk, pakaian yang renyuk, dan bau setengah busuk.

Duhai memang, betapa banyak suami dan bapak yang pulang dalam ketampanan yang telah larut, kegagahan yang telah hanyut, dan perhatian yang telah habis digerus pikiran kusut.

Duhai memang, betapa banyak suami dan bapak yang pulang bersama kepenatan yang tak menyisakan binar mata, bersama keletihan yang tak menyisakan senyum mesra, dan bersama kelesuan yang tak menyisakan canda cinta.

Padahal istri mereka lebih berhak atas pesona dirinya daripada atasannya. Padahal anak-anak mereka lebih memerlukan keakraban cintanya dibanding para mitra kerja.

Bayangkanlah bagaimana perasaan seorang bocah yang semula berdiri bahagia menyambut kepulangan ayahnya namun disambut oleh jasad lunglai. Betapa kecewa hati seorang anak kecil yang berbinar mata hendak menunjukkan karya dan pencapaiannya namun sang ayah sudah tak kuasa menunjukkan minatnya. Betapa segigit jari terpendam di dada jika seorang anak hendak mengisahkan hal yang sangat menarik dan rindu bermain dengan ayahnya, sementara sang ayah bergegas berlalu darinya demi rehat.

Jawaban dalam jajak pendapat anak-anak para pegiat dakwah itu barangkali bermula dari kandasnya kebersamaan di detik awal kepulangan. Lalu segala kegiatan orang tua itu terpandang buruk di dalam jika mereka sebab dianggap merebut cinta yang seharusnya menjadi hak mereka. Ini bermula karena kepayahan yang tak tertangani dengan baik. Ini bermula karena cinta dalam hati tak disertai oleh jasmani dalam serumah keluarga, hingga gagallah ia diisi bersusun-susun rasa surga.

Para istri, ingatkanlah suamimu untuk bercermin sebelum ia kembali. Jangan lupa bekalkan pembersih muka, penyegar mulut, sisir dan wewangian di dalam tas kerjanya. Dia amat memerlukan itu semua untuk kepulangannya menuju cint. Dia amat menghajatkan semua itu untuk kehadirannya di hadapan keluarga.

Maka betapa indah suami dan ayah yang menyempatkan penyegaran sejenak sebelum sampai dan mengetuk pintu rumah. Agar sepulang nanti, walau hanya beberapa jenak dia tetap dapat meneladani Rasulullah yang pada suatu hari menakjubkan Abu Hurairah. "Betapa tunggangan kalian berdua adalah tunggangan terbaik di seluruh lapis langit dan petala bumi!" ujar Abu Hurairah kepada Al Hasan dan Al Husain yang sedang menunggangi kakek mereka tercinta. Maka sosok yang tak muda lagi namun demikian bersemangat merangkak mengelilingi ruangan itu menyahut, "Dan kedua penunggangnya juga adalah yang terbaik di antara semua penunggang."

Maka betapa indah suami dan ayah yang menyempatkan membenahi penampilan dan wewangian badan sebelum tiba di pekarangan. Agar di rumah nanti, dia tetap dapat meneladani Rasulullah yang membiarkan dadanya menjadi sandaran kemanjaan Aisyah sambil menyimak bacaan Qurannya. Atau mendengarkan pembacaan syair istrinya. Atau menelaah bersama cerita-cerita hikmah yang menguatkan hubungan. Atau bahkan berlomba lari dengan penuh kebugaran.

Sungguh, berkemas untuk kembali pada keluarga selaiknya lebih bersungguh-sungguh daripada berhias menjelang berangkat. Sebab yang akan menyambut para suami di rumahnya bukan sekedar kepentingan, melainkan sebuah kesetiaan.

Maka para istri, ingatkanlah suamimu untuk bercermin sebelum dia sampai ke rumah.

Kesegaran diri dalam pulang akan menjadi asas pewarisan nilai iman, Islam dan ihsan. Inilah barangkali mengapa terberitakan tentang Rasulullah bahwa beliau bersiwak pertama-tama adalah untuk Allah, yang kedua untuk istri dan keluarganya, baru yang ketiga untuk tetamu dan insan umumnya. Maka selain sebelum shalatnya, Rasulullah senantiasa bersiwak saat akan masuk ke rumahnya.

Kebugaran diri dalam pulang akan menjadi asas pewarisan nilai dakwah dan perjuangan. Inilah mungkin sebabnya Rasulullah bersama sahabat yang ketika kembali tak langsung memasuki kota Madinah melainkan berkemah semalam di luar batas kota.

Demi apa?

Agar para suami yang pulang dari jihadnya ini mandi bersuci, bersiwak berwewangi, menipiskan kumis, merapikan janggut, dan memakai pakaian yang indah dan rapi. Dan agar para istri di rumahnya juga telah menyiapkan sambutan; diri yang jelita, dandanan memesona, hidangan yang lezat, serta rumah yang tertata.

Demikianlah agar perjalanan jihad itu tetap terjaga keagungannya di mata sang istri. Demikianlah agar safar dakwah itu tetap terjaga kemuliaannya di pikiran anak-anak. Demikianlah agar kegiatan berkah itu tetap terjaga keindahannya di dalam hati seluruh keluarga. Demikianlah agar seluruh isi rumah berada dalam derap perjuangan yang senantiasa penuh gairah.

Inilah suami yang diajari istrinya bercermin. Dia gegap gempita ketika pulang, berseri-seri menemani anaknya bermain dan menyimak kisah seru mereka, walau beberapa jenak kemudian dia pamit beristirahat sebab lelahya memang tak tertahan jua. Pamit dengan senyum. Pamit dengan santun. Pamit dengan elusan di kepala, kecup mesra di dahinya, serta bisik doa di telinga.

Para istri, ingatkanlah suamimu untuk bercermin sebelum sampai ke rumah. Tentu tanpa melupakan doa yang diajarkan Kanjeng Nabi itu, "Alhamdulillah, Allahumma kama hassanta khalqi, fahassin kuluqi." Ingatkan dia untuk bercermin, awal-awal dalam makna yang paling harfiah. Sebab ia sunnah yang akan membuat Allah mengaruniainya akhlak mahmudah. Sebab ia sunnah, yang akan menjaga kelangsungan dakwah.

***

Disalin tanpa perubahan dari tulisan ustad Salim A. Fillah berjudul Ingatkan Suamimu untuk Bercermin di buku Ingatlah untuk Bercermin terbitan Era Adicitra Intermedia. 

Tapiii by the way, suka ngga tega juga sih untuk (misal) minta suami pulang dalam keadaan segar, karena nyatanya emang dia capek. Kalo pas gw di Bogor, nungguin suami pulang aja suka ngerasa capek karena suka bingung sambil ngapain. Ketika terdengar suara motornya, aahh legaaa.. Walaupun yang datang memasuki pintu sudah bermata sayu karena ngantuk dua jam perjalanan dari kantor sampe rumah, yang mana jam 20.30 bisa pulang itu udah anugerah, menyambutnya pulang aja sangat membahagiakan. Sesayu apapun matanya, seberantakan apapun rambutnya, sebau asap-dan-kereta apapun bajunya, cinta mah ya cinta aja. Tapi ini dalam kondisi kami masih berdua, dan gw udah cukup dewasa (cailah) untuk memahami betapa letihnya dia, mungkin akan berbeda kalo nanti kami udah ngga cuma berdua tapi bertiga sampe berdelapan. 

Sungguh terlalu egois kalau gw mengharap suami pulang dalam keadaan sesegar dan semempesona ini, sementara letihnya bukan sesuatu yang direkayasa.

Bukan hanya suami yang perlu bercermin, istri dan ibu pun sama, karena yang akan kita temui di rumah bukan sekedar kepentingan tapi juga ada cinta.

Selamat pagi menjelang siang, selamat nerusin ngerjain UTS take home Nilai dan Risiko Teknologi Informasi *ngomong sama cermin* :)

1 comment:

Drop your thoughts here, yea feel free!