Mendewasa, Welcoming Baby Part 1

Ada beberapa hal yang dengannya, lo sadar bahwa lo sudah cukup dewasa untuk menghadapi kehidupan, mengambil keputusan-keputusan. Selain umur yang, tentu aja, ngga selalu representatif atau selaras sama tingkat kedewasaan, berdasarkan pengamatan amatir gw, these things matter.

Pertama kali gw sadar gw udah dewasa adalah ketika orangtua gw, bapak dan ibuk, memperlakukan gw dengan berbeda. Gw mulai dilibatkan dalam diskusi-diskusi serius, diminta pertimbangan untuk keputusan-keputusan penting, diceritain hal-hal yang sebelumnya menurut gw rahasia orang-orang tua. 

Lalu dilanjutkan dengan cara bapak dan ibuk memperlakukan gw. Ketika mereka marah, mereka ngga marah-marah dengan nada tinggi melainkan bicara dengan nada rendah yang lebih serem daripada dimarahin ala anak SMP yang bandel. Ketika mereka memanggil, mereka ngga berteriak. Gw diberi kebebasan mengambil keputusan-keputusan tertentu tanpa campur tangan mereka, sebagian sisanya tentu aja gw harus berkonsultasi dulu karena anak perempuan adalah tanggungjawab ayahnya sampe dia menikah.

Ngerasain diperlakukan seperti sahabat, bukan lagi seperti anak kecil yang diatur-atur di mana segala keputusan ada di orangtua dan gw jadi eksekutor aja bener-bener berharga. Gw belajar bertanggungjawab, belajar mengelola kehidupan gw sendiri, belajar tentang skala prioritas, belajar jadi manusia. Seutuhnya.

Kalo diflashback, jauh banget perbandingan perlakuan bapak ibuk semasa gw SD, SMP dan SMP, lalu kuliah. Jangan tanya masa-masa pra-SD, ingatan gw ngga setajam itu :p kecuali bahwa gw sangat doyan minum susu Dancow. Waktu gw SMP dan SMA, seriiing banget gw dimarahin, banyak larangan-larangan, tegas banget sikap bapak ibuk. Begitu masuk kuliah, mereka lebih fleksibel dan percaya. Gw jadi inget kalo di Islam, ada panduan buat pendidikan anak yang dibagi ke dalam tiga fase.

Fase 1, usia anak 0-7 tahun. Fase 2, usia anak 8-14 tahun. Fase 3, usia anak 15-21 tahun. Di fase pertama, perlakukan anak seperti raja. Bukan berarti raja lalu semua inginnya dipenuhi, tapi di fase ini perlakukan anak sebaik-baiknya. Di grup facebook Parenting Elly Risman, dikasih analogi kalo anaknya William & Kate bener-bener diperlakukan dengan spesial, dijaga siapa yang boleh ketemu sama dia, dijaga boleh terpapar apa aja, keamanannya, daaaaan seabreg penjagaan yang lainnya. Kenapa? Karena dia ada di daftar calon raja. Gimana kalo dia udah jadi raja? Pasti lebih ketat jaminan keamanannya, dan segala yang terbaik dikasihin. Begitulah kira-kira. Kenalkan anak pada Tuhannya, Allah, dan berikan pelayanan terbaik untuk proses belajarnya beradaptasi dengan dunia.

Di fase 2, perlakukan anak seperti tawanan perang. Terapkan aturan-aturan yang udah dikenalkan di fase 1. Di fase ini juga sebagian besar anak bakal baligh, sehingga kewajiban-kewajiban shalat, menutup aurat pun udah berlaku. Kalo kata ustad Syafiq Basalamah nih, memang di usia ini anak wajib shalat, tapi kalo itu artinya orangtua baru memperkenalkan shalat di fase ini, ya terlambat. Ajari anak shalat sejak fase 1, di fase ini, tinggal ditegakkan aturan WAJIB shalatnya. Gitu lah kira-kira. 

Di fase 3, perlakukan anak seperti duta besar atau sahabat. Biarkan anak mandiri, namun tetap dengan kontrol orangtua walaupun ngga sebesar fase-fase sebelumnya. Berikan tali, namun tidak untuk mengekang melainkan mengarahkan. 

Buat orangtua baru, yang baru mau jadi orangtua, ataupun baru berniat jadi orangtua, gw saranin banget baca Prophetic Parenting tulisan DR. Muhammad Nur Abdul Hafizh Suwaid yang ngebeberin parenting secara Islam kaya gimana. Detail, lengkap dengan dalil tentu aja, karena Islam adalah agama dalil, bukan logika manusia yang sangat terbatas semata. Kenapa ngga cukup logika manusia? Karena manusia banyaakkk banget kurangnya, terbatas pengetahuannya, sedangkan dalil datengnya dari Allah yang menciptakan bumi, langit, dan kita, manusia yang sering ngerasa banyak lebihnya. Di pembukaannya, beliau bilang bahwa buku itu ditulis selama sepuluh tahun dengan metode dalil dulu, baik ayat Al-Qur'an atau hadits, baru diterjemahkan ke praktik sehari-hari, bukan sebaliknya. Kebanyakan buku parenting yang ada ngejabarin praktiknya dulu baru nyari dalil yang cocok, sedangkan praktik parenting Barat banyak yang bertentangan satu sama lain karena merupakan hasil kesimpulan eksperimen si peneliti.


Dear anak ibu dalem perut, mari bekerjasama. Semoga Allah ridhoi makhluk yang tiap hari nendang, ninju, ngulet, cegukan, entah ngapain lagi semasa dalem perut ini buat jadi anak yang bermanfaat buat umat, ada dalam barisan yang bakal menegakkan kalimatullah di akhir jaman. 

Mohon doakaaan! :) 
Kalo kata ayahnya, "Tendang terus nak, tinju terus, mumpung masih dalem perut. Nanti kalo udah keluar, nendang ibu jadinya durhaka. Kalo sekarang, ibunya seneng ditendang-tendang."

3 comments:

Drop your thoughts here, yea feel free!