Posting Kebahagiaan Keluarga (Mulu), Yay or Nay

Dulu, gw kira setelah nikah gw bakal sering upload-upload foto di media sosial untuk setiap selfie gw dan suami, check in untuk setiap destinasi yang kami datengin sesepele makan bebek goreng Haji Slamet sekalipun, atau update status terkait kehidupan pernikahan kami, baik yang bernada ngomporin ataupun merana kudu jauh-jauhan Bogor-Bandung ketemu seminggu sekali.

Dua bulan setelah menikah, setelah ketauan hamil, gw kira gw bakal sering update perihal kehamilan gw termasuk foto hasil USG, foto baby stuff yang udah menuhin lemari dan update status to show how excited I am to have a baby. 

Nyatanya.....
Tiap postingan gw disupervisi sama bapak Ghazali. Laki-laki itu berhasil menahan hasrat pamer gw, dan menjadikan telinganya menjadi yang pertama mendengar, sepanjang dan se-enggak penting apapun ocehan gw, segundah-gulana apapun perasaan gw. Belum apa-apa, tampak gelagat gw mau posting foto USG aja udah disodorin kepalan tangan dan seringai asem.

Jauh, jauh sebelum bertebaran tulisan bahwa pasangan yang banyak mengekspos kehidupan pribadinya di media sosial kebanyakan kurang bahagia di dunia nyata; si introvert udah sukses bikin gw ngerasa cukup berbagi cerita di dunia nyata. Saja. 

daripada upload selfie, mending upload foto cabe-cabean plastik yang menggoda jiwa dan raga

Media sosial adalah tempatnya orang melihat, menilai lalu berasumsi, maka ketika berbagi dan dicaci, jangan sakit hati.
Dan, saudara, termasuk golongan yang melihat, menilai lalu berasumsi adalah perempuan bernama Rahma Djati. Banyak senior gw di sekolah dan kampus yang dulu sangat gw hormatin, gw nilai bijaksana, berwawasan luas, suka menolong, aktivis pula, sekarang justru kurang bijak memfilter apa yang diekspos ke media sosialnya. Rasanya, setiap buka media sosial, postingan mereka selalu mewarnai timeline, ngga cuma satu melainkan bisa sekaligus tiga. Postingannya ngga jauh-jauh dari betapa baik suaminya, atau betapa lucu dan pintar anaknya. Tentu, saudara, adalah hak segala bangsa setiap manusia buat upload apa yang dia mau di media sosialnya, namanya juga media sosial, kalo ngga mau keganggu dengan postingan orang ya ga usah log in. As simple as that.

Tapi, poin gw adalah, dengan makin horornya kasus kriminal di Indonesia, kita harus lebih bijak ngefilter mana yang kudu dishare mana yang engga. Udah berapa kasus kejahatan terhadap anak dan wanita yang diawali dari postingan media sosial? Udah berapa kasus perampokan yang diawali sebab serupa? Buanyak! Dan......... Rasanya ada banyak hati yang harus dijaga. Mungkin banyak dari friend list kita yang lagi berjuang sama kehidupan pribadinya; soal jodoh, soal anak, soal rejeki, soal bisa jajan di mana, yang terusik lalu menjadi kurang bersyukur karena membandingkan.

Jangan jadi sebab orang kurang bersyukur sama porsi rejekinya :)
Bahaya lagi kalo ternyata postingan kita yang menyanjung dan memuji-muji suami/istri ternyata bikin orang kambuh penyakit hatinya. Kok bisa? Lah ternyata ada yang dulu naksir berat tapi ngga kesampean dan ngga berjodoh. Jangan jadi sebab orang kambuh penyakit hatinya :)

Ah~ ngomongin media sosial emang ngga bakal ada habisnya. Udah kaya musim duren aja, isi timeline juga musim-musiman. Musim kudeta Turki, musim pro-kontra gubernur DKI, sampe musim kartun maen seret aje ke KUA. Tentu aja di sela-selanya, selalu ada postingan kemesraan iniiii janganlah cepat berlaaaaluuuuuu~ Semua mendadak jadi ahli, segala yang dibaca dan dirasa sesuai sama isi hati, sepemikiran, satu jalan satu tujuan, langsung SHARE!
Padahal...........

Cukup seseorang dikatakan dusta, jika ia menceritakan segala apa yang ia dengar.” (HR. Muslim no. 5)
Lho, ngeri ye kan. Ada juga nih dari Al-Qur'an langsung redaksinya.
“Hai orang-orang yang beriman, jika datang kepadamu orang fasik membawa suatu berita, maka periksalah dengan teliti, agar kamu tidak menimpakan suatu musibah kepada suatu kaum tanpa mengetahui keadaannya yang menyebabkan kamu menyesal atas perbuatanmu itu”. [Al Hujurat : 6]
Kalo kita udah sangat khatam bahwa setiap kata-kata bakal diminta pertanggungjawaban dan ngga kelewat dari catetan malaikat, kayanya di tahun 2016 ini kita juga kudu lebih inget bahwa setiap kata yang kita ketik, setiap berita yang kita share, daaan tentu aja setiap update kehidupan keluarga yang kita posting juga ngga lepas dari catetan malaikat. 

Mata manusia bisa dikelabuhi, tapi niat ngga bisa disembunyiin dari Allah. Daripada kepleset dikit jadi pamer, mending filter lagi yok mana yang sebaiknya diposting dan mana yang bukan. Jadiin suami atau istri tempat pertama dan terlengkap buat berbagi, bukannya ditag di Path dengan caption sepanjang tol Cipali :3

Yok evaluasi diri sendiri! :)

6 comments:

  1. Nice share, mbak :)
    Yg ini jleb bgt :" -> "Jangan jadi sebab orang kurang bersyukur sama porsi rejekinya"

    ReplyDelete
  2. Hihi setuju mbak rahma.. opo meneh sama kata kata "dan rasanya banyak hati yg harus dijaga".. termasuk hatiku ma hati para jomblo.. hahaha..

    ReplyDelete
    Replies
    1. lho kan, ada bukti nyata hati yang harus dijaga :D

      Delete
  3. Artinya introvert atau ekstrovert apa ya? Nice share, tnx, need permission to share this. Respect

    ReplyDelete
    Replies
    1. no need permission to share, silakan aja :)

      simplenya, introvert itu orang yang tertutup; ekstrovert orang yang terbuka.

      Delete

Drop your thoughts here, yea feel free!