Jatuh Cinta (Lagi)

Beberapa tulisan dibuat untuk menebar manfaat, beberapa untuk pengingat diri bahwa ada hari-hari yang membahagiakan, untuk dibaca lagi ketika tua nanti. Bukankah momen akan terus hidup melalui cerita?

Bagaimana caranya mendeskripsikan cinta?
Pada tangan yang letih bekerja, kaki yang kaku lantaran berdiri di kereta.
Pada mata sayu yang terpaksa masih terbuka ketika tengah malam tiba,
atau pada senyum yang berat namun tidak dipaksakan.

Bagaimana caranya menerjemahkan bahasanya?
Karena dia bukan lelaki yang pandai bermesra lewat kata,
apalagi romantika ala film India.
Cerita seperti drama Korea? Wah jauh sekali rasanya.

Tapi, bahkan tanpa bahasa pun ternyata mudah membaca dia membahasakan cinta. Lewat senyumnya di penghujung hari yang melelahkan, dengan mata sayu dan terkadang permintaan pijatan sejenak, beberapa menit sebelum dia terlelap mendengar ceritaku yang masih menggantung. 
Lewat refleks tangannya yang berhasil menemukan jari-jariku yang tersembunyi di balik bantal ketika kami membiarkan badan ditelan malam agar hilang lelah dan peluh.

Lalu aku menyadari,
beginilah jatuh cinta berkali-kali pada orang yang sama.

Padahal dulu kami punya cerita, bukan, bukan romantika remaja di masa mahasiswa. Di antara ribuan orang yang kudaulat menjadi teman, adalah dia salah satu dari ribuan tersebut. Jauh sebelum aku paham bagaimana batasan pria dan wanita yang diatur langsung oleh Pencipta kita, dia hadir sebagai salah satu sahabat terbaik, salah satu tempat berbagi resah terbaik dan tentu saja salah satu sebab terbaik hadirnya tawa. Berbagi beban dengannya memang tak selalu mendapat solusi, namun setidaknya terasa lebih ringan di hati. Persahabatan kami, seperti halnya persahabatan muda mudi lainnya, memiliki banyak tawa dan banyak celaan khas anak muda. Tergabung dalam satu divisi di organisasi menjadikan kami punya lingkaran main sendiri, bersama orang-orang yang menjadi keluarga ketika di rantau, dengan semboyan "hanya ada dua kondisi, senang atau senang sekali". Maka jangan bertanya-tanya kalau kau mendapati banyak foto lama kami bersama, atau banyak status dan tweet lama kami berbalasan. Dia memang sudah hadir sejak lama dalam lingkaran pertama orang-orang yang aku cari ketika aku butuh solusi atau sekedar butuh tertawa.

jualan di stand BEM pas penerimaan mahasiswa baru


ho-li-day yay!
geng "cuma ada dua kondisi: senang dan senang sekali"

Menjadi sahabatnya, dipercaya mendengar cerita yang tak banyak ia bagi karena ia tak suka orang tahu masalah pribadinya; adalah kehormatan besar.
Dipilih menjadi istrinya dari sekian banyak wanita, juga adalah kehormatan dan kebahagiaan besar. Eh, tapi bukankah dia pernah menenangkanku dengan nasihat "Tenang Mak, perempuan itu memilih kok." dalam suatu cerita patah hati? Berarti dia yang sangat bahagia akhirnya aku memilihnya. Ha!

Di setiap cerita sejarah, selalu ada perbedaan rasa antara pelaku dengan pembaca. Sama, cerita ini akan menjadi biasa saja untuk sebagian orang tapi jelas luar biasa untuk pelakunya. Setidaknya, untuk yang sedang menulis blog ini sambil menunggu sahabat terbaik yang sekarang bergelar suami pulang dari tempat kerjanya.

Walaupun waktunya lebih banyak tersita di tempat kerja dan aku hanya mendapatinya di sisa-sisa malam dengan mata sayu lelah berkereta, dia tetap yang tertampan, dengan kaos rumahan dan celana pendek yang itu-itu saja. Jelas bukan aku yang bisa lama memandangi dia tampil rapi dalam kemeja dan celana jeans yang kami beli bersama. Tapi, cinta juga soal menerima dan bertoleransi. Betapa hebatnya dia yang sabar melihat istrinya tiap hari memakai gamis rumahan yang (juga) itu-itu saja, bonus basah kena ompol dan eek dari bayi tiga minggu yang kami beri nama Afiqa. Maka aku tak menemukan alasan untuk tidak bersabar pula.

Beginilah, indahnya jatuh cinta setiap hari berkali-kali pada orang yang sama. Sahabat sendiri.

Rupanya, dulu tak pernah aku terlintas akan Allah pasangkan menjadi jodoh laki-laki berbadan tipis berhati lapang yang sekarang kupanggil abang.

Bertemu dengannya adalah takdir, berteman dengannya sudah seharusnya, tapi menikah dan mencintainya melibatkan keputusan dengan banyak pertimbangan. Yang kutahu, aku bersyukur Allah menghadirkanmu untuk bersama kita menghabiskan usia. Semoga sampai surga. Mencintaimu di dunia yang fana saja sangat membahagiakan, apalagi di surga-Nya yang kekal dan indah luar biasa. 

Terima kasih sudah mengijinkanku memiliki opsi untuk memilihmu.


***

Bogor, 18 Agustus 2016 21.46
dengan satu bayi berumur 19 hari yang sedang ngulet-ngulet,
untuk laki-laki berbadan tipis berhati lapang yang kupanggil abang <3

4 comments:

  1. kereeeeen mba haha
    itu bang ghaza arsenal juga apa pinjem punya bang tito? hha pantes ganteng wkk

    ReplyDelete
    Replies
    1. Loh ada zukin �� punya sendirii hahaha, pasti sesama fans arsenal *smirk

      Delete
    2. Loh ada zukin �� punya sendirii hahaha, pasti sesama fans arsenal *smirk

      Delete
  2. aku juga jatuh cinta sma penyanyinya

    ReplyDelete

Drop your thoughts here, yea feel free!