IIP: Learning to Learn #NHW5

Setelah 7 bulan pertama kehidupannya Afiqa ngga pernah sakit, sekarang dia sakit dong aakkk. Sedih hati mamak 💔💔💔 Tadinya seminggu ini gw udah plot agenda mau ini mau itu, tapi akhirnya balik kanan kapten. Malem aja ngga sempet nyalain leptop karena doi ngga bisa ditinggal. Kudu dikelonin maknya ampe pagi. Tapi di waktu-waktu saat Afiqa ngga mau gw balik badan sekedar cuci tangan itu lah, gw sadar bahwa saat ini Afiqa adalah orang yang PALING membutuhkan gw, dan peran ini ngga bisa ditunda atau digantikan oleh orang lain. Tesis bisa nunggu minggu depan (padahal deadline makin horor rasanya), mules bisa ditunda beberapa jam 😓, lapar bisa dituruti saat ia terlelap, NHW bisa dikerjain hari Minggu. Tapi Afiqa? Lewat tangan gw Allah merawat Afiqa, ngga mungkin gw balik kanan dari peran ini.

Sampe di NHW5 berarti udah 5 minggu gw ikut IIP, tapi ada pertanyaan yang belum bisa gw jawab. Kenapa gw merasa belum memprioritaskan IIP? Kenapa notif IIP suka gw skip, ah baca ntar aja pas mau tidur, dan mendahulukan nyimak obrolan grup sebelah? Proses yang berjalan membantu gw menemukan lagi letak bintang yang ingin gw raih, tapi belum sampe pada tahap memberikan perubahan hidup yang signifikan atau dramatis. Atau gw yang belum take it seriously? 😕 

Nah balik lagi ke NHW kelima.
Minggu kelima ini berisi materi tentang learning to learn. Buat gw pribadi, tahu caranya belajar ngga kalah penting dibanding belajar itu sendiri. Gw ngga bisa belajar dengan senyap, karena gw bakal ketiduran. Kalo gw ngga tahu hal tersebut, ya bubar jalan sudah belajar gw. Apalagi di lingkungan yang stereotipe belajarnya itu ya duduk diem baca buku di tempat yang hening.

Baydewey, yang paling gw suka dari materi minggu kelima ini adalah prinsip belajar yang TINGGIKAN GUNUNG, JANGAN MERATAKAN LEMBAH. Lejitkan potensi, bakat dan passion yang ada, bukan malah menutupi kekurangan yang dipunya.


Sejak baca kriteria NHWnya, gw berpikir nanti mau googling dulu gimana desain pembelajaran itu. Pasti ada somewhere on the internet 😅😅 Tapi di last minute begini gw tiba-tiba keinget sesuatu.

Lah Mak, tesis lo kan tentang pembelajaran abad 21. Ada pengembangan media pembelajaran pake metode ilmiah, lah ya itu bisa dipake dong! So yes, here it is ADDIE buat desain pembelajaran keluarga, gw ambil tidak semuanya karena disesuaikan dengan dunia nyata.


Namanya ADDIE, singkatan dari Analysis Design Development Implementation Evaluation. ADDIE ini adalah model yang paling banyak dipake buat bikin media pembelajaran yang menjamin bahwa media yang dibikin sesuai dengan tujuan pembelajarannya. Disesuaikan dengan kondisi keluarga bapak Ghazali, di mana target audience belajarnya adalah abang, gw dan Afiqa (dan adek-adeknya nanti in syaa Allah), makaaa....

ANALYSIS
Ini tahap awal yang harus dijawab dengan tepat. Karena salah analisis akan berakibat fatal ke belakangnya. Domino effect, you might say. Di tahap analisis ini, gw jabarkan poin rincinya.
  1. Need analysis
    Berangkat dari perintah untuk menjaga anggota keluarga dari api neraka (At-Tahrim/66:6), konsekuensi dari ayat ini sungguh dahsyat. Menjaga dari api neraka itu butuh ilmu duniawi iya, jaminan makanan halal iya, ilmu agama iya, akhlak yang baik juga iya. Makanya setiap anggota keluarga bapak Ghazali wajib belajar ilmu untuk ke surga dan ilmu untuk di dunia.
  2. Target audience analysis
    Tentu sajaaa, setiap anggota keluarga bapak Ghazali mulai dari ayah, ibu, Afiqa dan adek-adeknya nanti 😊
  3. Task & topic analysis
    Yang wajib dipelajari berbeda sesuai peran dalam keluarga.
    Ayah: pendalaman ilmu Islam, ilmu menjadi ayah seperti yang Rasul teladankan, dan menambah serta mendukung ilmu parenting yang ibu pelajari.
    Ibu: parenting, kerumahtanggaan (is that even a word? 😖), kepenulisan seperti yang diazzamkan di NHW1.
    Afiqa: tauhid, life skill dan ilmu-ilmu yang dibutuhkan sesuai fase usianya.

    Rasanya masih sangat general ya? Ya iyalah! Hidup emang butuh banyak penguasaan ilmu. Emang kita bisa bertahan hidup dengan bahagia cuma modal ilmu parenting aja (misalnyah). Tapii, to make it more specific, dihubungkan dengan prinsip jangan meratakan lembah tapi tinggikanlah gunung, maka topik yang akan dipelajari menjadi:
    Ayah: engg.....apa ya hobi dan passion ayah 😕
    Ibu: tulis menulis dan literasi
    Afiqa: bermaiiinnn dengan panduan milestone sesuai usianya. Gw pake patokan milestone dan stimulasi dari buku Rumah Dandelion dan Rumah Main Anak 1. They help a lot.
DESIGN
Di tahap desain, dirancanglah media pembelajaran yang sesuai sama hasil analisis itu kaya apa. Kalo dijabarkan lagi, jadinya:
  1. Learning objectives
    Tujuan pembelajaran berdasarkan topik spesifik adalah menjadikan kami masing-masing insan yang bermanfaat ngga cuma buat diri sendiri atau keluarga tapi juga untuk ummat.
  2. Delivery strategy
    Strategi penyampaiannya disesuaikan dengan masing-masing style belajarnya. Abang ngga terlalu suka baca buku, artinya untuk belajar beliau butuh media lain seperti video, komunitas atau praktik langsung. Sedangkan buat gw yang ekstrovert dan doyan baca walaupun belakangan ini bacaan gw nguplek aja seputar bayi dan MPASI, bisa digunakan media buku, komunitas juga, bacaan online yang terpantau karena kalo mandiri gw sering hilang motivasi di tengah jalan, atau praktik langsung yan juga terpantau. Nah buat anak kicil kami Afiqa, penyampaiannya tentu sajaa dengan cara bermaiiin! Gw berniat memfasilitasi dia dengan waktu dan pendampingan di saat-saat mainnya, bukan cuma nyodorin mainan. Dan semoga di challenge Indonesia montessori berikutnya gw bisa ikutan, aw excited!
  3. Evaluation strategy
    Evaluasi paling gampang sih buat anak wedok, hahaha, tinggal cek checklist dari buku Rumah Dandelion sama Rumah Main Anak. Buat gw sama abang, evaluasi paling applicable adalah dengan ngobrol empat mata. Eh, atau enam mata? Anak kami ini memang ngga suka ditinggal sendirian uuu~
DEVELOPMENT
Ini adalah tahap pembuatan media pembelajaran. Di tahap ini, ayah ibu membuat courseware atau media pembelajaran untuk kami bertiga belajar. Saling memfasilitasi, terutama untuk anak kicil kami. Bentuknya masih akan kami godhog sampe mateng dan lezat selezat nasi godhog Bakmi Jowo Dipati Ukur. Duhh! I miss Bandung layf 😋

IMPLEMENTATION
Media pembelajaran yang udah dirancang dan dibikin akan dipake, dan ini butuh pengawasan. Buat kami berdua yang masih susah lepas dari gadget dengan sejuta alasan, pengawasan ini penting banget. Padahal pengin Afiqa ngga banyak screen time atau kecanduan gadget, tapi buat ngerem aja masih susah. Ini salah satu PR terbesar gw dan abang memang. 😌😌 

EVALUATION
Seperti yang ada di tahap desain, evaluasi dilakukan dengan checklist dan ngobrol berdua antara gw dengan abang. Yang diukur bukan cuma berhasil atau enggaknya, tapi juga seberapa jauh kami enjoy dengan proses belajar itu sendiri. Kaya yang bu Septi bilang, gampang untuk bikin anak menguasai suatu subjek tapi untuk bikin anak suka tentu ada tantangan yang lebih besar. Tampaknya gw dan abang pun butuh bikin checklist keberhasilan deh supaya lebih terukur 😏

Jalan-jalan ke Pariaman
Di jalan nemu pohon rambutan kerdil
Sekiaaan, mau bikin closing statement kok kelamaan
Bapake anak kicil udah manggil-manggil

No comments:

Post a Comment

Drop your thoughts here, yea feel free!