IIP: Segalanya Bermula dari Keluarga Bapak Ghazali #NHW3

Assalamu'alaykum!

👆 eits ayok dijawab dulu 😝 

Kembali lagi bersama Rahma dalam kelanjutan tugas IIP. Kalo lo bertanya kenapa yang ada langsung NHW3 tanpa NHW2, selamat! Berarti anda pembaca setia angsajenius yeeey 👏 *crowd cheering*. NHW2 gw kerjakan di Gdocs karena ketunda-tunda terus hingga 2 jam menjelang deadline. Gw harus akui, bukan sama sekali ngga ada waktu atau kesempatan tapi gw yang memang ngga meluangkan waktu. Busy is not an excuse, isn't it?

Materi minggu ketiga IIP judulnya MEMBANGUN PERADABAN DARI DALAM RUMAH. Berat ya kesannya? Because yesss, the responsibility of having family is super wow! Ketika Allah kasih kita anak, bukan berarti kita boleh seenak hati memperlakukannya. Sebagai orangtua, sebisa mungkin kita kudu berusaha mendidik anak sesuai kehendakNya, Allah, yang nitipin amanah tersebut. Kaya kata suami (yang selanjutnya di tulisan ini akan gw sebut abang) yang selalu ngingetin setiap kali gw naik nada lantaran kesabaran mulai menipis "Sabar..Afiqa ngga bisa milih to punya kita jadi orangtuanya? Jangan sampe seandainya dia bisa milih, dia ngga mau jadi anak kita." 

Ada kalimat yang sangat gw suka dari materi IIP minggu ini.
Ketika kita dipertemukan dengan pasangan hidup kita untuk membentuk sebuah keluarga, tidak hanya sekedar untuk melanjutkan keturunan, atau hanya sekedar untuk menyempurnakan agama kita. Lebih dari itu, kita bertemu dengan suami dan melahirkan anak-anak, adalah untuk lebih memahami apa sebenarnya “peran spesifik keluarga” kita di muka bumi ini.
Peran spesifik keluarga. Pasti ada rahasia kenapa Allah sandingkan gw dengan abang, lelaki yang kepribadiannya berbeda 180 derajat sama gw. Perihal tersebut emang jarang kami bahas belakangan ini, jadi ketika IIP ngasih tugas buat mikir dan bikin catatan tersendiri, we were like.....this is the right time! Rutinitas harian yang menguras tenaga dan pikiran menyisakan beberapa jam di rumah dengan mata berat yang rindu terpejam seringkali membuat kita lupa untuk memformulasikan ulang tujuan dan mengevaluasi program yang sudah berjalan.

Tugas pertama NHW3 ini adalah jatuh cinta lagi kepada suami, trus dituangkan dalam bentuk surat cinta. Bukan tugas sulit untuk dikerjakan, because I love him more each and every day 💝. Bahkan dengan wajah lelah dan jaketnya yang bau kereta sepulang kerja. Tapi lewat surat itu, gw jadi ingat lagi alasan-alasan jantung berdegup lebih cepat, binar mata yang ngga bisa disembunyikan, dan senyum yang tak pernah berhenti terkembang. Ghazali Al Nafi, orang yang membuat gw kagum jauh sebelum kami menikah dengan kemauannya membantu temannya, memiliki terlalu banyak alasan yang membuat gw jatuh cinta. Lagi. Kepada orang yang sama.

Kepada tatapan mata penuh perhatiannya ketika gw bicara, kepada senyum hangatnya yang tak bersebab, kepada usapan menenangkannya ketika gw panik dan sedih, dan kepada banyak alasan lain yang ngga bisa gw utarakan. 

Trus kalo lo nanya apakah semua hal dari diri kami klop? Oh tentu tidak.
💢 Gw yang banyak bicara dan selalu meminta abang cerita padahal abang memang hemat kata.
💢 Gw yang suka hal-hal spontan tanpa rencana dan abang yang harus merencana segalanya hingga detail dan menanyai gw rencana detail yang sering gw jawab dengan mulut maju a.k.a. manyun.
💢 Gw yang suka ketemu orang banyak dan abang yang ngga suka ketemu orang kecuali yang udah dikenal baik.
💢 Gw yang apa-apa minta ditemenin dan abang yang selalu komentar "Halaaah semuanyaa minta ditemenin, sukanyaa deket-deket padahal kursi masih banyak" sambil bergeser memberi gw tempat untuk berbagi kursi.
💢 Dan gw yang suka nyetel video seminar serta memaksa abang yang lagi main clash royale ikutan nonton. 😅😅

Tapi pasti, pasti Allah punya maksud menyandingkan kami untuk hidup bersama. Abang yang selalu bilang buat gw maju melakukan hal yang gw suka, beliau akan jadi orang terdepan yang mendukung. Beberapa keinginan pun muncul. Nulis buku, aktif lagi di Peduli Jilbab karena sejak lahiran gw belum pernah hadir lagi, buka bisnis baru, ngajar lagi selepas lulus; semuanya abang dukung. Gw jadi merasa punya tali yang mengikat ke tanah setinggi apapun gw terbang, sehingga gw ngga lupa ke mana gw harus berpijak dan ngga kuatir gw akan hilang kendali. Kami disandingkan untuk berkolaborasi. Gw belajar hidup dengan ritme teratur, dari sebelumnya yang grasa-grusu dan impulsif.

Balik ke surat cinta yang langsung ketauan kalo itu tugas IIP, gimana respon abang setelah baca? Jadi hari itu gw lagi demam dan pusing tujuh keliling ehlebay, jadi surat 4 lembah HVS tulis tangan gw taroh di meja rias kamar kami. Gw ngga tahu beliau pulang, gw juga ngga tahu beliau membaca tulisan itu. Paginya, ada binar mata yang ngga bisa disembunyikan. "Aku seneeng, terharuuu...hehehe." 👈 kenapa harus pake hehe 😒 

Ngga cuma surat cinta buat suami, NHW3 juga mengharuskan gw melihat bayi 6 bulan yang baru bisa duduk sendiri ini dan memindai apa potensi kekuatannya. Sebelum dapet tugas IIP, gw semacem take her for granted gitu loh. Gw ngga pernah berpikir kenapa rahim gw yang Allah pilih untuk tempat tumbuhnya Afiqa, kenapa gw dan abang yang Allah tunjuk menjadi orangtuanya, punya misi apa Allah amanahkan anak dalam keluarga kami. Sampai postingan ini diketik, kami belum sepenuhnya menemukan jawabannya. Terlalu dini melihat potensi bayi berusia 6 bulan. She can do anything, she can be anything! Afiqa yang gigih luar biasa belajar merangkak, dan bisa makan dengan rapi tanpa belepotan hanya dalam 3 hari, ngga banyak bersuara dan lebih sering tertawa tanpa gigi (ya karena giginya belom ada hahaha!), dengan fisik yang sempurna. Kecerdasannya luar biasa, ketika gw bilang "Afiqa sekarang jam 6, hari ini Afiqa bobo jam 8 ya, 2 jam lagi ya, nanti jam 8 udah bobo pules, ibu mau ngerjain tesis ya." dan simsalabim! jam 8 teng dia udah bobo demikian pulasnya 💤💤.

Jarinya yang sempurna dan tatapannya yang tajam mungkin menjadikannya pengamat handal dan penulis hebat. Kegigihannya akan menjadikannya wanita kuat yang mandiri, tidak gampang menyerah. Kecepatan belajarnya bisa menjadikannya hafizah di usia kanak-kanak, dan seperti Imam Syafi'i yang menguasai hafalam Al-Quran dan hadits di usia remajanya, gw berharap Afiqa bisa menyampaikan ilmu yang dia punya dengan santun. Afiqa, perempuan cerdas yang bertaqwa dan menjadi harapan kami, orangtua, keluarga dan umat muslim sedunia. Tugas gw dan abang sebagai ayah ibunya tentu berat. Menjadikan anak tumbuh sesuai fitrahnya, menjaga dari dunia yang semakin mengerikan bukan hal mudah. Doakan kami dimampukan 💪.

Ngga cuma sampe situ materi IIP bikin gw mikir. Gw masih harus mikir kenapa Allah menempatkan gw di lingkungan sekarang. Di Bogor, tempat yang tadinya ngga pernah masuk ke daftar kota idaman untuk ditinggali. Ah bahkan setelah setahun lima bulan menikah dengan lelaki ber-KTP Bogor pun rasanya masih ada potongan hati gw yang tertinggal di Bandung. Sejuknya, udaranya, airnya, jalan yang membelah kotanya, kampusnya, tempat wisatanya, kenangannya, makanannya, dan..........seblaknya. Seblak yang gw propose buat beli ke suami tapi selalu ditolak ngga dikasih ijin. Bogor menyajikan harapan kehidupan keluarga kami ke depan. Gw banyak belajar dan ditempa di Bandung, dengan banyak kegiatan, teman-teman, kajian dan peluang-peluang, semoga gw bisa memanfaatkannya di Bogor. Soon!

Anyway bukan sekali gw galau dengan kesibukan yang nguplek di rumah aja, karena setiap buka socmed banyak gw temui teman-teman sibuk dengan dunia sosialnya. Lalu di suatu hari yang sudah sangat sumpek, gw curhat ke Umahat Peduli Jilbab. Dan respon mereka bikin gw berkata dalam hati dengan mantap
"Mak, lo di rumah bukan berarti lebih ngga berharga atau kalah dengan wanita-wanita karir di luar sana. Lo punya waktu 24 jam sama anak yang banyak wanita karir inginkan. Lo punya kesempatan meraih surga di setiap surut rumah. Akan tiba saatnya kita bisa berkegiatan di luar dengan cemerlang, tapi sekarang Afiqa adalah orang yang paling membutuhkan waktu dan perhatian lo, melebihi semua rekognisi yang bisa dunia beri."
It takes a village to raise a child. And to raise her well, it starts from her mother. I am a proud momma!


Kalimat terakhir dari materi IIP minggu ini adalah Kelak anda akan membuktikan bahwa antara pekerjaan, berkarya dan mendidik anak bukanlah sesuatu yang terpisahkan sehingga harus ada yang dikorbankan. Pernyataan itu bikin gw terbersit mendalami teknologi untuk anak usia dini di penelitian disertasi nanti. Hah, disertasi? Tesis lo aja belom kelar maaakk! 👈 Iya makanya didoain, in syaa Allah bentar lagi tuntas kok 😇

No comments:

Post a Comment

Drop your thoughts here, yea feel free!