Disemangati Bu Septi

Belum satu jam yang lalu, grup IIP gw dapet kejutan. 30 menit bersama dosen tamu yang siap menjawab aliran rasa (yang di dunia dikenal dengan istilah curhat 😌). Daaannn, guess whooooooooo!!

Dosen tamunya bu Septi dong! 💖💖💖 Kejutan banget ngga sih. Jadi ceritanya selama setengah jam peserta boleh nanya atau curhat apapun, bu Septi bakal jawab pertanyaan yang beliau pilih. Gw yang selama ini rasanya masih datar aja sama IIP, datar banget sedatar kulit dadar gulung, tiba-tiba kaya dikirimin suami sekilo duren kupas diem-diem pake gojek. Seneng dan excited!

Masih inget kegalauan gw di postingan IIP sebelum ini?
Hah pede amat si Rahma, wong yang baca postingan NHW paling cuma fasilitator IIP sama suami kok 😂😂😂

Okay, gw copas nih ya separagraf kegalauan gw.

Sampe di NHW5 berarti udah 5 minggu gw ikut IIP, tapi ada pertanyaan yang belum bisa gw jawab. Kenapa gw merasa belum memprioritaskan IIP? Kenapa notif IIP suka gw skip, ah baca ntar aja pas mau tidur, dan mendahulukan nyimak obrolan grup sebelah? Proses yang berjalan membantu gw menemukan lagi letak bintang yang ingin gw raih, tapi belum sampe pada tahap memberikan perubahan hidup yang signifikan atau dramatis. Atau gw yang belum take it seriously? 😕
Bertanyalah gw ke bu Septi. Biar ngga keduluan, gw udah ketik pertanyaannya di sticky notes sehingga gw tinggal copas 😝

Saya rahma, seorang mamaksiswa (mamak-mamak yang lagi berjuang menuntaskan status mahasiswanya). Sebelumnya jazakillah ibu sudah memprakarsai IIP, manfaat sekali programnya.

Tapi bu, saya masih galau sampai minggu ke-6 matrikulasi ini. Rasanya saya belum memprioritaskan belajar di IIP sehingga hasilnya pun tidak signifikan yg saya rasakan. Niat dan harapan saya besar padahal saat awal mendaftar IIP. Mohon motivasinya bu 😢

Dan bener dong, karena gw pertama nanya, pertama pula bu Septi jawab. 

Mbak Rahma, motivasi yang paling bagus adalah muncul dari dalam diri kita bukan dari luar. Maka pertanyaannya apakah ada bagian mimpi mbak Rahma yang ada di IIP? Kalau ya kejar, kalau ternyata tidak,  bisa segera putar haluan skala prioritasnya. Yang penting dalam hidup ini tidak boleh "sekedar menjalankan" apapun itu ✅

It was like a slap in the head!
Kenapa hampir dua bulan ini gw ngga kepikiran ya. Benar adanya, rutinitas bisa membunuh mimpi. Lo boleh punya rutinitas dan sibuk dengannya tiap hari, tapi sempatkan setiap malam untuk menengok kembali daftar mimpi yang ada. They keep you stay on track.

Gw cuma perlu menuliskan lagi mimpi-mimpi gw dan membuat garis korelasinya dengan IIP. Sesederhana itu. Singkat banget jawaban beliau, tapi sungguh bernas.



Terima kasih dan selamat malam!
Yang mau baca hasil semedi gw serta hasil diskusi sama suami tentang IIP, bisa klik pada tag IIP atau klik link ini.

Jangan lupa shalat isya yoh, one of the scariest thing ever existed is going bed without praying isya and waking up in your grave 😣😣

No comments:

Post a Comment

Drop your thoughts here, yea feel free!