Escape Plan



Percaya ngga kalo suara hati kita ngga pernah bisa diem, bahkan ketika mulut kita rapat terkunci? Sore ini di sela-sela gw mencuci piring abis makan, gw bicara sendiri dalem hati. Kita selalu butuh pilihan, yegaksih? Manusia selalu butuh keleluasaan memilih, because that what makes human, human.

Apa yang lebih menyedihkan daripada tidak punya pilihan?
Di awal kuliah 2014, gw dikasih rekomendasi tontonan series buat ditamatkan. Katanya wajib nonton minimal sekali seumur hidup karena life lessons dari seriesnya banyak banget, gitu kata Nisaa, temen sekelas gw di itebeh. Nah masih inget Robin di How I Met Your Mother (HIMYM)? Dia pernah bilang dengan sangat pedenya kalo dia ngga mau punya anak. Proses selama dia memutuskan ngga mau punya anak dan setelah dia mengumumkan ngga mau punya anak berjalan baik-baik aja, maksud gw, Robin was fine. Dia ngga sedih, dia ngga depresi atau tertekan. Sampe pada suatu hari dia ke dokter dan dia dinyatakan ngga bisa punya anak. Logikanya, logika gw lebih tepatnya, Robin harusnya nggapapa. She has to be doing fine, karena pilihannya didukung oleh kenyataan hasil periksa dokter. Harusnya, ya kan. Sekali lagi ini harusnya.

Nyatanya?

Robin was sooo upset. Dia sedih sampe di tahap suka nangis sendiri kalo lihat anak-anak. Trus apa coba yang dia bilang setelah ditanya sama gengnya?

Dia butuh untuk memiliki pilihan. Dulu, dia tak ingin mempunyai anak, tapi dia butuh mengantisipasi jika sewaktu-waktu dia berubah pikiran. Dia butuh kebebasan memilih dan berubah pikiran. Sayangnya, hasil cek dokter tidak berkata demikian karena dokter menyatakan dia tak bisa memiliki keturunan.



That what makes human, human. Choice.

Kalo engga, kenapa coba dulu budak-budak di jaman jahiliyah sebelum cahaya Islam datang merasa terkekang? Ya karena budak ngga punya keleluasaan memilih. Sebulan lalu gw baca novel judulnya Wahsyi, si Pembunuh Hamzah. Novelnya nyeritain tentang gejolak batin Wahsyi, budaknya Jubair bin Mut'im. Sejak lama Wahsyi mendambakan kemerdekaan, jadi manusia merdeka, bukan lagi jadi budak yang bisa disuruh-suruh majikannya. Dia mencari segala cara demi mendapat kemerdekaan, sampe akhirnya dia ditawari buat membunuh Hamzah bin Abdul Muthalib, paman Rasulullah yang sekaligus salah satu muslim terkuat dan ditakuti lawan. Kalo Wahsyi berhasil membunuh Hamzah, maka dia bakal dikasih kemerdekaan. Singkat cerita, dia melakukannya. Wahsyi membunuh Hamzah. Lalu ia pun merdeka.

Apakah kemerdekaannya membuatnya bahagia? Not really. Setelah merdeka, Wahsyi masih aja merasa hidupnya sempit, ngga bisa bebas memutuskan dan memilih seperti halnya orang-orang merdeka yang ia saksikan ketika ia masih menjadi budak. Ia masih ngga bisa tampak sebahagia Bilal, budak yang juga merdeka setelah dibeli dan dibebaskan oleh Abu Bakar. Padahal, setelah Wahsyi membunuh Hamzah, ia ngga cuma merdeka tapi juga dikasih hadiah harta berlimpah. But again, that's not where happiness lies.

Barulah Wahsyi tahu, yang membuat bahagia bukan merdeka itu sendiri, tapi kebebasan menentukan pilihan setelah merdeka.

Seringnya, bisa memilih lebih penting daripada pilihan itu sendiri. Kecuali kasus pilkada atau pilpres ya *kibas jilbab* yang satu itu sih pilihan juga sama pentingnya. Ngga cuma sekali dua kali gw denger curhatan ibu-ibu di grup WhatsApp yang nadanya begini:

Tanggal tua, ada diskonan gamis. Sedihnya *kasih emot duit terbang*
Trus tadi cerita ke suami kalo ada diskonan gamis trus dibilang beli lah, pilih mana yang suka. Tapi abis dilihat-lihat lagi, sayang eh mau beli. Yaudah deh, gajadi beli.
Siapa yang begitu juga tolong tunjuk tangan tolong.
Yaa gitu deh, punya kebebasan memilih kadang lebih penting dan membahagiakan daripada pilihan itu sendiri. Pas kondisi keuangan lagi ngga memungkinkan beli barang diskonan yang event diskonnya cuma setahun sekali, rasanya sediiihhhh. Diskonnya kan cuma ada setahun sekali, eh sekalinya ada malah ngga bisa beli. Tapi begitu kita ada budget buat beli, tiba-tiba kita merasa ngga butuh dan akhirnya ngga jadi beli.


Nah kan.

Bisa memilih, kawan, kadang sangat membahagiakan. Kita cuma butuh keleluasaan itu, ruang untuk memilih. Ruang untuk memutuskan, karena dengan begitu kita merasa melakukan yang terbaik. Dan perasaan telah melakukan yang terbaik sangat penting untuk kelangsungan hidup manusia.


Kalo kata Ale di novel Critical Eleven-nya Ika Natassa sih gini nih "We always need an escape plan." Oh yes we do.
.
.
Oh, do we?


Gif diambil dari giphy.

No comments:

Post a Comment

Drop your thoughts here, yea feel free!