Tentang Rahma

Tidak ada satu hal pun yang terjadi karena kebetulan. Setiap hal terjadi karena memiliki arti, setiap makhluk terlahir atas sebuah tujuan. Tidak ada yang kebetulan. Tidak pula terlahirnya bayi tambun duapuluh dua tahun yang lalu.

Di suatu kota kabupaten kecil di sisi selatan pulau Jawa, bersebelahan tepat dengan Yogyakarta, satu tempat yang sering luput kemunculannya di peta, pada Desember 1989 sepasang makhluk mengukuhkan janji atas nama Tuhannya. Sudjatmoko dan Sri Hastuti, dua manusia yang darinya kelak Allah turunkan bocah tengil yang kerjaannya cengar-cengir.




Mama Ati Muma!

Dari keluarga berpendidikan (baca: kedua orangtua adalah tenaga pendidik a.k.a guru), pada hari Kamis 5 September 1991, bayi gendut seberat 3,6 kg terlahir sempurna tanpa cacat. Menurut cerita, bayi itu sedemikian gendutnya sampai seperti tak memiliki leher, seperti kepala dan badan tanpa ada perantaranya. Anak pertama ini lalu diberi nama Rahma Kusuma, sebuah nama yang menurut pakdhe sangat nggantung, seperti potongan kalimat yang berakhir dengan koma, bukan titik. Akhirnya di sela kedua nama itu disisipkan potongan nama sang ayah dan sang ibu, Djatmoko dan Tutik menjadi Djati. Lengkaplah namanya, Rahma Djati Kusuma. Rahmat Allah untuk Djatmoko dan Tutik yang kelak harapannya bisa menjadi pahlawan yang berjalan di jalan yang baik. Besar rupanya harapan mereka atas bayi gendut yang maniak susu Dancow dan doyan ngemil Cerelac ini.



Sebagai anak pertama, bocah ini mendapat perhatian yang sangat cukup walaupun bukan berarti tidak pernah dimarahi. Di usia balitanya, bocah ini mulai menampakkan tanda kecerdasan, "Mama pingin pintere kados pak Babibi" (Rahma pengin pinternya kaya pak Habibie). Ya, lidahnya tidak selaras dengan otaknya pada saat itu, huruf R selalu gagal diucapkan sehingga namanya sendiri menjadi Mama Ati Muma, nama gaul dari Rahma Djati Kusuma.


Kapasitas otak balita memang dipengaruhi oleh banyak faktor, dan tampaknya salah satu faktor yang melejitkan potensi otaknya di lima tahun pertama adalah susu Dancow vanila. Setiap hari, ia tak mau ditinggal ibu berangkat sekolah sebelum disuguhi lima gelas susu Dancow yang akan dia habiskan dengan sedotan dari jam tujuh sampai jam sebelas. Pas lima jam, lima gelas.


Pada lima tahun pertama kehidupannya, manusia belajar sangat banyak hal dengan sangat cepat. Pada masa lima tahun pertama, bocah itu tidak menguasai bahasa apapun selain bahasa Jawa Krama (tingkatan bahasa Jawa yang halus, biasa digunakan untuk berkomunikasi dengan orang yang lebih tua). Rupanya bapak dan ibuk, begitu bocah itu memanggil mereka, sengaja hanya mengajarkan bahasa Jawa Krama yang membuat teman sebayanya bingung harus menimpali apa ketika bocah itu bicara. Bahasa Indonesia? Otaknya mencerna sendiri apa yang dia dengar dari televisi hitam putih duabelas inci di rumah mbah uti.


Mama Ati Muma Masuk Sekolah!

Sekolah. Kosakata yang sama sekali tidak asing buat bocah ini. Kedua orangtuanya mengajar di satu sekolah di tempat yang agak lebih kota dibanding rumah mereka, dan di sekolah itu Rahma kecil tahu apa resolusi terbesar pertamanya. TK. Rahma mau sekolah! Rahma mau sekolah di TK di dekat tempat kedua orangtuanya mengajar! Rahma ngga mau sekolah di TK di kampung dekat rumah! Seragam mereka lebih bagus, mainannya lebih lengkap; ada ayunan banyak, jungkat-jungkit, perosotan, bola dunia, jembatan keseimbangan; dan semuanya lebih bagus daripada mainan di TK dekat rumah, apalagi TK impiannya terletak di dekat pasar sehingga setiap Sabtu, bu guru selalu membawa muridnya jalan-jalan melewati pasar. Dan warung di samping TK itu lebih besar daripada warung di dekat TK kampungnya. Sempurna. Rahma mau sekolah di TK itu, Aisyiyah Bustanul Athfal, TK ABA namanya.

Tercapai! Resolusi terbesar bocah itu tercapai dan tiap hari dia harus diantar jemput becak untuk ke sekolah. Semacam sewa supir yang bertugas antar jemput dan digaji sebulan sekali, supir (baca: tukang becak) adalah salah satu orang yang sangat dia harapkan kedatangannya tiap pagi. Ya, Rahma kecil hobi naik becak dan sangat ngga suka naik angkot. Dia tidak tahan bau mobil yang selalu membuatnya mual. Katrok ya?


Di TK, dia bukan jagoan tapi gayanya layaknya preman. Hampir tiap kepanasan, dia buka kancing seragamnya dan kipasan, kaos dalam putihnya melambai-lambai. Dia main petasan bersama sebaya laki-lakinya, hanya bu kepala sekolah yang bisa menghentikan aksi brutalnya. Dia pernah jatuh dari jembatan keseimbangan dan kakinya tertancap besi bekas yang karatan hingga berdarah dan masih membekas tujuhbelas tahun kemudian, tapi dia tidak menangis saat itu. Gengsinya mengalahkan sakitnya, walaupun setelah di rumah dia menangis sejadi-jadinya. Tapi di luar itu, bu guru memberi predikat Rahma sebagai salah satu murid terpintar di kelas, ah bu guru tak tahu saja apa yang bocah itu kerjakan di rumah.


Hari bersejarah di TK adalah lomba tujuhbelasan. Ada delapan cabang lomba, dan tujuh dari delapan lomba itu dimenangkan oleh satu orang. Tentu saja bukan Rahma. Rahma hanya berhasil memenangkan satu cabang lomba, estafet kelereng dengan sendok. Prestasi ini membuatnya menjadi orang paling tersohor kedua di sekolah. Tentu saja setelah temannya yang memenangkan tujuh lomba itu. Dari sana mentalnya terbentuk, mental pemenang, yang akan mempengaruhi enam tahun kehidupannya di SD.


Tepat lima tahun setelah kelahirannya, di tanggal dan hari yang sama, Kamis 5 September, terlahir normal bayi lebih gendut dan sehat yang kemudian diberi nama Muhamad Yusuf Hakim. Dia menjadi kakak kini. Secara teori, ia harusnya selalu dengan senang hati berbagi dan bermain bersama adiknya, tapi pada kenyataannya mereka selalu berebut makanan, mainan dan remote tv. Kalau sudah menunjukkan tanda akan kalah, sang adik akan menggigitnya atau mencakarnya. Apa yang bisa dia lakukan? Kan ngga mungkin digigit balik. Dia hanya bisa berteriak.



 
Rahma Jadi Anak Kampung (Lagi)
Ia hampir tak diluluskan oleh bu guru TK ABA lantaran usianya yang kurang, tapi kecepatan berhitung, membaca dan menghafalnya mengalahkan usia yang kurang itu. Rahma lulus SD. Dan ini adalah bencana. Semua teman-teman TKnya melanjutkan di SD yang sama, sedangkan ia, entah dengan pertimbangan dewasa apa saja, didaftarkan ke SD di kampung dekat rumah. SD N Margosari. Ia sempat berontak dan menangis di depan bu guru TK, ia tak mau bersekolah di tempat yang berbeda dengan teman-temannya. Akhirnya tangis cengeng itu reda setelah mendengar nasihat ibu guru TK. 

Tak ada yang dikenal. Tak ada lagi antar jemput becak favoritnya. Tak ada lagi pasar yang dilewati tiap hari. Di SD, rapotnya tak pernah terisi angka selain angka satu, selain caturwulan pertama kelas satu karena ia sakit cacar air. Setiap caturwulan ia menerima bingkisan buku, hadiah untuk juara tiap kelas. Namun ternyata prestasinya tak selaras dengan kemampuannya berolahraga. Teman-teman agaknya malas sekelompok dengannya di pelajaran olahraga karena ia hampir pasti selalu terbelakang. Lari paling belakang, main kasti selalu kena pukul, gobak sodor selalu kena, sepakbola apalagi. Bukannya menendang bola, tapi sepatunya justru terlempar saat ia mencoba bergaya menendang bola. Saat senam lantai, ia malah menendang pak guru, lempar lembing atau tolak peluru juga tak pernah memuaskan. Hah, di dunianya, hidup rasanya ngga adil untuk pelajaran olahraga. Hanya senam irama yang ia bisa banggakan, itu pun hanya hafal gerakan tapi dari sisi kelenturan atau keluwesan senam, dia tak bisa dibilang menakjubkan.


Kelas tiga menjadi batu loncatan penting dalam hidupnya. Suatu hari di kelas, bu guru bertanya "Siapa yang belum bisa naik sepeda?" dan bocah itu dengan mantap angkat tangan, tampaknya dia percaya diri bahwa akan ada banyak temannya yang juga angkat tangan. Ternyata.......hanya ada dua orang yang angkat tangan. Merah mukanya. Malu. Sejak itu dia berniat, dia harus bisa naik sepeda. Segera. Sepeda gunungnya itu sudah terlalu lama tergolek karatan karena tiap disuruh belajar naik sepeda ia selalu pura-pura jatuh. Dengan pura-pura jatuh, sesi latihan sepeda akan diakhiri. Di kelas tiga itu juga ia ditanya bu guru "Rahma, petani kalau menanam padi itu maju atau mundur?" dan dengan sangat lantang dijawabnya "Maju bu!". Jawabannya meruntuhkan reputasinya sebagai cucu dari kakek yang memiliki sawah sangat luas. 


Terlibat beberapa kali nyek-nyekan (saling mengejek) dan konflik dengan teman sekelas dan kakak kelas, ia masih menjadi sosok yang selalu dicari guru-guru karena nilai dan talentanya. Baca puisi, pidato, pidato bahasa Inggris, siswa teladan, baca tulis Al-Qur'an, melukis, pramuka, senam irama, lomba cepat tepat; dia wakili semua cabang lomba itu di tingkat kecamatan. Hasilnya? Tentu saja kalah, SD pinggiran dengan pengalaman setitik dibanding SD kota kecamatan yang pengalamannya sebelanga. Tapi bocah itu selalu girang setiap akan ikut lomba karena ia pasti memakai rompi sekolah yang hanya dipinjamkan untuk peserta lomba, dan rambut pendeknya akan dibuat kepang kecil dengan pita merah oleh ibu. Dia merasa cantik. Hanya pramuka yang ia pimpin yang sukses menjuarai pesta siaga tingkat kecamatan, prestasi terbesarnya. Di tingkat kabupaten? Lagi-lagi, pengalaman kami masih setitik dibandingkan yang lain yang sebelanga.





Tipikal anak kampung. Jika hujan, mereka tak mau menunggu jemputan. Mereka meminta daun pisang milik warga setempat dan satu daun pisang dipakai untuk bertiga. Ah sebenarnya daun pisang itu sama sekali tak bisa melindungi apapun dari tubuhnya dari air hujan. 


Enam tahun di SD, angka satu yang selalu bertengger manis di rapotnya membentuknya menjadi anak yang percaya diri, sangat percaya diri untuk ukuran usianya. Dia tak malu mengajak kenalan orang baru. Dia tak pernah malu bertanya, pertanyaan bodoh sekalipun; dia hanya tahu bahwa selama dia belum paham dia harus terus bertanya. Dia terbiasa menjadi pemenang hingga dia berpikir "aku harus terus menang", yang kadang justru membuatnya menjadi sangat keras kepala dan tak mau kalah. Benar ternyata, menang bisa jadi bencana; dan gagal bisa jadi justru bermakna kemenangan yang tersembunyi.


Usianya hampir duabelas tahun, tapi dia masih takut wudhu isya sendirian karena takut melihat Mak Lampir terbang di atas tempat wudhunya, atau tiba-tiba ada Mumun Jadi Pocong di belakangnya, atau jenglot di dekat kamar mandi, atau air kran yang mengucur berubah menjadi darah, atau Maria si Manis Jembatan Ancol toel-toel dari belakang. Hiiiy. Mental pemenang tak berlaku untuk makhluk semacam ini. Tak sering dia dimarahi karena ngotot mau nonton Kera Sakti yang tayang pukul tujuh malam karena aturan di keluarga kecilnya adalah tak ada tv nyala mulai maghrib. Apa daya, Sun Go Kong terlalu ganteng untuk dilewatkan, dia bahkan sempat ingin punya rambut mirip Go Kong di tangannya (muka tentu saja perkecualian). Di matanya, Sun Go Kong itu....sempurna.


Sampai akhirnya dia lulus SD. Dan serentet hal yang tak pernah disangkanya terjadi di masa SMPnya. Masa anak-anaknya berakhir saat dia lulus SD, Rahma siap memasuki dunia baru. Sekolah Menangah Pertama, dengan berbagai pengalaman yang serba pertama.

2 comments:

Soraya Serumah said...

Selamat Siang Mbak Rahma,

Saya sedang blogwalking dan menemukan blog anda.
Saya Soraya dari http://serumah.com.
Saat ini trend berbagi ruangan/roomsharing sangat marak di kota besar. Kami berinisiatif untuk membuat situs pencari teman sekamar/roommate agar orang-orang yang ingin menyewa tempat tinggal (apartemen, rumah atau kost) dapat berbagi tempat tinggal dan mengurangi biaya pengeluaran untuk tempat tinggal. Berawal dari ide tersebut, website serumah.com diluncurkan pada awal tahun 2016.

Saat ini saya meminta bantuan anda untuk menuliskan artikel review mengenai serumah.com di situs blog anda. Saya dan Tim Serumah sangat menghargai jika Anda bersedia untuk memberikan review terhadap website kami dan menerbitkannya di blog anda.

Mohon hubungi saya jika ada pertanyaan lebih lanjut. Saya ucapkan terima kasih atas waktu dan kesempatannya.

Soraya F.
Cataga Ltd.
soraya.serumah@gmail.com
http://serumah.com/

surya maulana said...

karena setiap kejadian sudah digariskan

Post a Comment

Drop your thoughts here, yea feel free!